Minggu, 30 Oktober 2016

Efikasi Diri (Self Efficacy)




Efikasi diri pertama kali diperkenalkan oleh Albert Bandura. Efikasi diri merupakan konstruk yang digunakan Bandura berdasarkan teori kognitif sosial. Menurut Bandura self efficacy adalah:

Perceived self efficacy is definiting as people’s beliefs about their capabilities to produce designated levels of performance that exercise influence over event s that effect their lives. Self efficacy beliefs determine how people feel, think, motivate themselves and behave. Such beliefs produce these diverse effects through four major processes. They include cognitive, motivational, affective and selection processes.[1]
Efikasi diri merupakan suatu keyakinan seseorang mengenai kemampuan yang dimilikinya untuk menghasilkan tingkatan performa yang telah terencana, dimana kemampuan tersebut telah terlatih oleh kejadian-kejadian yang berpengaruh terhadap hidupnya. Keyakinan tersebut menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan memotivasi dirinya untuk bertindak. Selain itu juga mempengaruhi empat proses utama, yaitu proses kognisi, motivasional, afeksi, dan seleksi. 

Sedangkan menurut Stephen P. Robbins dan Mary Cuolter bahwa “self efficacy is an individual’s belief that he or she is capable of performing a task”.[2] Efikasi diri merupakan keyakinan individu bahwa ia mampu melakukan tugas. Keyakinan seseorang dapat melakukan dengan baik dalam situasi tertentu. 

Efikasi diri merupakan masalah kemampuan yang dirasakan individu untuk mengatasi situasi khusus sehubungan dengan penilaian atas kemampuan untuk melakukan satu tindakan yang ada hubungannya dengan melakukan tugas khusus atau situasi tertentu.[3]

Efikasi diri tidak hanya menyangkut keyakinan akan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas motorik yang spesifik tapi juga keyakinan tentang kemampuan untuk mengkoordinasi dan menyusun kemampuan-kemampuan dan kecakapan-kecakapan dalam menghadapi situasi yang berubah, dan lebih menantang. Dalam hal ini, Efikasi diri juga bukanlah perkiraan sederhana mengenai perilaku. Efikasi diri bukanlah kepercayaan mengenai apa yang akan dilakukan tetapi merupakan kepercayaan mengenai apa yang bisa dilakukan. Efikasi diri didefinisikan dan diukur bukan sebagai suatu ciri tetapi sebagai keyakinan tentang kemampuan untuk mengatur berbagai keterampilan dan kemampuan mencapai tujuan yang diharapkan, dalam domain spesifik dan kondisi atau keadaan khusus.

Efikasi diri merupakan penilaian dan kepercayaan diri apakah dirinya mampu melakukan sesuatu atau tidak. Sehingga, seorang yang memiliki efikasi diri tinggi memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya maka untuk bisa dipastikan dapat melakukan sesuatu dengan baik. Keyakinan diri seseorang dipengaruhi oleh faktor kognitif. Keyakinan diri dan efikasi diri terwujudkan dalam ekspektasi hasil.


[1]A. Bandura, (1994). Self Efficacy. In V. S. Ramachaudran (Ed.), Ensyclopedia of Human Behavior (Vol. 4, pp. 71-81). New York: Academic Press. (Reprinted in H. Friedman [Ed.], Ensyclopedia of Mental Health. San Diego: Academic Press, 1998). Tersedia di: http:// www.emory.edu/EDUCATION/mfp/BanGrowingPri.pdf (diakses 18 November 2013).
[2]Stephen P. Robbins dan Mary Cuolter, Management (New Jersey: Pearson Education, 2012), h. 436.
[3] John M. Ivancevich dan Robert Konopaske, Human Resource Management (New York: McGraw-Hill, 2013), h.  222.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar