Minggu, 30 Oktober 2016

Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)



Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)

Anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas memiliki beberapa ciri-ciri yang membuat mereka mengalami masalah akademik di antaranya: 

  1. Impulsivitas
Inhibitory Control adalah kemampuan untuk menekan respon-respon terhadap rangsangan yang tidak relevan. Impulsivitas adalah masalah yang  umum dengan inhibitory control dan akibatnya adalah sejumlah tingkah laku yang tidak diharapkan  seperti mencari perhatian, mengambil resiko, kecerobohan, manja dan tidak merasa takut  (Hollander & Evers, dalam Miller ,  2001).

Pada anak yang berkembang,bagian  lobus frontal otak  berfungsi mengatur proses respon terhadap sebuah rangsangan. Bagian  prefrontal dorsolateral dan orbital berfungsi untuk memberi keputusan pada rangsangan, menetapka tujuan dan mempertahankannya dan menentukan pola-pola respon yang adaptif.

Bagian otak prefrontal kanan dan  bawah adalah bagian yang diasosiasikan dengan impulsivitas. Hal ini menjelaskan mengapa internalisasi bahasa adalah bentuk penting dari tingkah laku.
Anak GPPH dapat berespon tanpa mempertimbangkan konsekuensi, bereaksi terhadap stimulus yang tidak relevan pada saat memiliki tugas yang harus dikerjakan, atau mulai bereaksi sebelum instruksi selesai diberikan. 

  1. Ketidak mampuan mempertahankan perhatian
Anak dengan GPPH sering dirujuk karena permasalahan perhatian mereka. Perhatian mempengaruhi banyak area fungsi kognitif dan anak-anak GPPH beresiko mengalami kegagalan di sekolah dan masalah masalah sosial.   

  1. Tingkat kegiatan dan fungsi sensori motorik
Hiperaktivitas dihubungkan dengan disfungsi circuit pada frontal-subcortical karena kurangnya dopamine, stimulan yang mengurangi aktivitas motorik. Anak dengan GPPH  memiliki kekurangan pada transporter dopamine otak tengah.  
 

Kondisi ketidak mampuan memusatkan perhatian pada anak dengan GPPH ini mempengaruhi pembelajaran bahasa mereka. Mereka mengalami kesulitan persepsi verbal dan hal ini mempengaruhi peningkatan perbendaraan kata dan kemmapuan bicaranya. Anak dengan GPPH membutuhkan strategi belajar nahasa yang dapat membantu mereka mengembangkan bahasa sehingga ketrampilan bocaranya berkembang seperti anak anak seusianya.

Salah satu cara yang dapat membantu anak anak dengan GPPH adalah membantu mereka mengulang-ulang kata yang salah ucap dengan meminta menceritakan pengalamannya di sekolah dan di lingkungan kemudian orangtua menyimak kata-kata yang tidak tepat pengucapannya dan mengkoreksiya sampai anak mengucapkan dengan benar.

Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme yang berpandangan bahwa lingkungan  yang kaya bahasa akan membantu kesiapan anak untuk belajar bahasa. Anak belajar bahasa melalui interaksi dengan orangtua dan orang dewasa di sekitarnya yang menstimulasi anak yang berbicara dan menyamakan bunyi yang dikeluarkan oleh anak dengan bunyi bahasa yang dicontohkan oleh orang dewasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar