Senin, 31 Oktober 2016

Bagaimana Ibadah Kita?

📣 Ust.Adi Abdillah
🏡 Masjid Muadz bin Jabbal
📝 @ArtieTeja

📌5 tingkatan orang dalam beribadah, yaitu:
🔸Ibadahnya orang awam 🔀 Orang yang ibadahnya hanya sekedar ikut-ikutan.
🔸Ibadahnya para pencinta dunia 🔀 apapun yang dilakukan demi dunia, exp: Dhuha demi atau diniatkan untuk rezeki melimpah ⏩ Jangan beribadah yang di cari dunia.
🔸Ahli ibadah 🔀 Orang yang ibadahnya kenceng karena ingin masuk surga. Termasuk Ikhlas paling bawah.
🔸Para muhidin adalah para pencari cinta Allah 🔀 Cinta Allah sudah cukup, tidak berfikir surga dan neraka ⏩Melakukan apapun karena ketulusan cinta Allah. Termasuk ikhlas menengah.
🔸Orang-orang arif, beribadah dasarnya tulus mencintai Allah 🔀 Semangatnya/motivasinya syukur dan pengabdian. Malu menuntut kebaikan Allah. Kalaupun minta tidak memaksakan kehendak.

💖 Berdoa tanpa mendekte Allah.
💖 Berdoalah dengan ketulusan dan rasa syukur.
💖 Jadikan perjalanan ibadah menjadi bentuk syukur kita kepada Allah SWT.

Peran Konselor

⌚Konseling merupakan suatu proses hubungan yang bersifat membantu.

🔅Dalam proses konseling, konselor berhubungan dengan konseli yang mengalami penyimpangan (distorsi) persepsi tentang dirinya dan lingkungan, masalah "citra diri", yaitu konflik yang tidak saja bersifat personal tetapi juga eksistensial.

Variabel yang berpengaruh terhadap proses dan hasil konseling, diantaranya adalah:
🔸Diri (self)
🔸Persepsi (perception)
🔸Kebutuhan (need)
🔸Nilai-nilai (value)
🔸Perasaan (feeling)
🔸Pengalaman (perception)
🔸Keahlian (expertise)
🔸Masalah (problem)

📌Konselor dan konseli adalah seseorang yang hampir sama, yang membedakan adalah konselor memiliki keahlian (expertise) dalam membantu memecahkan masalah konseli, sementara konseli adalah seseorang yang memiliki masalah (problem) yang harus dipecahkan.

Kualitas yang harus dimiliki oleh konselor (Perez dalam Wilis 2010), yaitu:
🔹Mau melakukan kegiatan seperti detektif (mengamati perilaku, komunikasi dan ucapan-ucapan klien)
🔹Mampu membedakan (antara yang berfungsi dengan baik dan tidak baik)
🔹Memiliki sense of drama yang kuat
🔹Tidak boleh malu-malu dan harus kreatif
🔹Bersikap mendorong dan non-judgmental

Karakteristik kualitas pribadi konselor, sebagai berikut:
🔽Pemahaman diri (self-knowledge)
🔽Kompeten
🔽Kesehatn psikologis yang baik
🔽Dapat dipercaya
🔽Jujur (terbuka, autentim dan asli/genuine)
🔽Kuat (sikap dan perilaku fleksibel, identitas diri jelas)
🔽Bersikap hangat
🔽Responsif
🔽Sabar
🔽Sensitif
🔽Memiliki kesadaran holistik

✨Peran utama konselor di sekolah adalah memberikan layanan konseling, konsultasi dan koordinasi.

Selain itu peran konselor di sekolah/umum menurut Gibson dan Mitchell adalah sbb:
🔼Konselor sebagai terapis/pewawancara
🔼Konselor sebagai konsultan
🔼Konselor sebagai agen perubahan
🔼Konselor sebagai agen pencegahan
🔼Konselor sebagai koordinator
🔼Konselor sebagai agen orientasi
🔼Konselor sebagai assessor
🔼Konselor sebagai pengembang karier


Minggu, 30 Oktober 2016

Strategi Pembelajarajan Bahasa Metakognitif




Strategi Pembelajarajan Bahasa Metakognitif

Orangtua sangat berperan dalam perkembangan bahasa anak. Dengan berinteraksi dengan orang dewasa yang menyediakan kegiatan yang dapat menjembatani perbedaan antara pemahaman orang dewasa dan pemahaman anak-anak. Kegiatan-kegiatan bermain bersama setiap hari  di mana anak mempelajari ketrampilan-ketrampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai yang penting di dalam budaya. 

Perkembangan bahasa pada masa bayi dan perlakuan orang tua atau pengasuh mempengaruhi perkembangan kebahasaan dan kesiapan anak membaca. Oleh karena itu orangtua harus memberikan rangsangan yang memadai agar anak memperoleh bahasa yang sesuai dengan usia dan meningkatkan rasa percaya diri anak.
 
Pemerolehan bahasa melibatkan istilah sebagai berikut :proses,  gaya dan strategi. Proses adalah hubungan antara stimulus dan respon yang melibatkan penyimpanan makna, hafalan, transfer , generalisasi dan interferensi. Gaya adalah kesukaan yang konsisten dan bertahan lama pada diri seseorang.  Strategi adalah metode khusus untuk mendekati masalah atau tugas. atau masalah tertentu.[1].

Strategi metakognitif yang dimaksudkan dalam peningkatan bicara yang dimaksud adalah strategi yang melibatkan perencanaan belajar, pemikiran tentang proses yang belajar yg sedang berlangsiung. Dengan demikian pada saat belajar bahasa anak diminta untuk mengulang-ulang kata yang diberikan dan diberikan masukan sehingga kesalahan ucap dapat diatasi. Cara ini dapat dilaksanakan dengan meminta anak menceritakan pengalamannya dan pada saat anak mengucapkan kata yang kurang tepat orangtua atau guru meminta anak untuk berhenti dan mengucapkan kata yang dianggap kurang tepat setelah itu orangtua mengucapkannya dan meminta anak untuk mengulanginya.

Papalia et al menyebutkan ada beberapa faktor  yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Beberapa hal itu adalah:

a.      Kematangan otak.
Selama awal-awal tahun kehidupan anak, otak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini sangat berkaitan dengan perkembangan bahasa. Proses linguistik adalah proses yang rumit dan melibatkan berbagai komponen di otak. Bagaimana proses linguistik ini diatur oleh otak  sangat tergantung pada pengalaman anak selama proses kematangan otak.

b.      Peran orangtua dan pengasuh.
Bahasa adalah kegiatan sosial. Orangtua dan pengasuh memainkan peran yang penting pada setiap tahap perkembangan bahasa anak. Pada saat tahapan mengoceh,orangtua membantu bayi untuk dapat berbicara secara jelas dengan cara  mengulang-ngulang bunyi yang bayi ucapkan. Orangtua yang menitu ocehan bayi mengajarkan aspek sosial bahasa kepada bayi bahwa percakapann itu harus bergiliran. Bayi memahami aturan ini pada saat usia 7 – 8 bulan. 

c.       Kesempatan mengembangkan ketrampilan berbicara.
Untuk mengembangkan ketrampilan berbicara anak harus  diberi kesempatan untuk bercerita. Anak diminta untuk menceritakan pengalamannya,misalnya: ”Dini, apa yang kamu lakukan selama liburan?" Pada saat anak diberi kesempatan bercerita anak memiliki konteks untuk berlatih berbicara. Pelatihan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk berbicara.[2] 




[1] H Doglas Brown, Prinsip pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, ( Jakarta : Pearson Education , Inc , 2007) h.126-127.
[2] Teresa M McDevitt dan Jeana E Omrond, Child Development, ( Boston: Pearson ,) h 322

Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)



Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)

Anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas memiliki beberapa ciri-ciri yang membuat mereka mengalami masalah akademik di antaranya: 

  1. Impulsivitas
Inhibitory Control adalah kemampuan untuk menekan respon-respon terhadap rangsangan yang tidak relevan. Impulsivitas adalah masalah yang  umum dengan inhibitory control dan akibatnya adalah sejumlah tingkah laku yang tidak diharapkan  seperti mencari perhatian, mengambil resiko, kecerobohan, manja dan tidak merasa takut  (Hollander & Evers, dalam Miller ,  2001).

Pada anak yang berkembang,bagian  lobus frontal otak  berfungsi mengatur proses respon terhadap sebuah rangsangan. Bagian  prefrontal dorsolateral dan orbital berfungsi untuk memberi keputusan pada rangsangan, menetapka tujuan dan mempertahankannya dan menentukan pola-pola respon yang adaptif.

Bagian otak prefrontal kanan dan  bawah adalah bagian yang diasosiasikan dengan impulsivitas. Hal ini menjelaskan mengapa internalisasi bahasa adalah bentuk penting dari tingkah laku.
Anak GPPH dapat berespon tanpa mempertimbangkan konsekuensi, bereaksi terhadap stimulus yang tidak relevan pada saat memiliki tugas yang harus dikerjakan, atau mulai bereaksi sebelum instruksi selesai diberikan. 

  1. Ketidak mampuan mempertahankan perhatian
Anak dengan GPPH sering dirujuk karena permasalahan perhatian mereka. Perhatian mempengaruhi banyak area fungsi kognitif dan anak-anak GPPH beresiko mengalami kegagalan di sekolah dan masalah masalah sosial.   

  1. Tingkat kegiatan dan fungsi sensori motorik
Hiperaktivitas dihubungkan dengan disfungsi circuit pada frontal-subcortical karena kurangnya dopamine, stimulan yang mengurangi aktivitas motorik. Anak dengan GPPH  memiliki kekurangan pada transporter dopamine otak tengah.  
 

Kondisi ketidak mampuan memusatkan perhatian pada anak dengan GPPH ini mempengaruhi pembelajaran bahasa mereka. Mereka mengalami kesulitan persepsi verbal dan hal ini mempengaruhi peningkatan perbendaraan kata dan kemmapuan bicaranya. Anak dengan GPPH membutuhkan strategi belajar nahasa yang dapat membantu mereka mengembangkan bahasa sehingga ketrampilan bocaranya berkembang seperti anak anak seusianya.

Salah satu cara yang dapat membantu anak anak dengan GPPH adalah membantu mereka mengulang-ulang kata yang salah ucap dengan meminta menceritakan pengalamannya di sekolah dan di lingkungan kemudian orangtua menyimak kata-kata yang tidak tepat pengucapannya dan mengkoreksiya sampai anak mengucapkan dengan benar.

Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme yang berpandangan bahwa lingkungan  yang kaya bahasa akan membantu kesiapan anak untuk belajar bahasa. Anak belajar bahasa melalui interaksi dengan orangtua dan orang dewasa di sekitarnya yang menstimulasi anak yang berbicara dan menyamakan bunyi yang dikeluarkan oleh anak dengan bunyi bahasa yang dicontohkan oleh orang dewasa.


Penerapan Metode Mind Map



Penerapan Metode Mind Map

Apa Mind Map (Peta Pikiran) itu?

Mind Map (Peta Pikiran) dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mengorganisasikan dan menyajikan konsep, ide, tugas  atau informasi lainnya dalam bentuk diagram radial-hierarkis non-linier. Mind Map pada umumnya menyajikan informasi yang terhubung dengan topik sentral, dalam bentuk kata kunci, gambar (simbol), dan warna sehingga suatu informasi dapat dipelajari dan diingat secara cepat dan efisien.

Mind Map digagas dan dikembangkan oleh Tony Buzan,  seorang psikolog Inggris, yang meyakini bahwa penggunaan Mind Map tidak hanya mampu melejitkan proses memori tetapi juga dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan menganalisis, dengan mengoptimalkan fungsi belahan otak. Mind Map dapat mengubah informasi menjadi pengetahuan, wawasan dan tindakan. Informasi yang disajikan fokus pada bagian-bagian penting, dan dapat mendorong  orang untuk mengeksplorasi dan mengelaborasinya lebih jauh. 

Mengikuti ikhtisar pola kerja Mind Maple, Mind Map terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu:

  1. Topik Sentral, pokok atau fokus pikiran/isu uyang hendak dikembangkan, dan diletakkan  sebagai  “pohon”.
  2. Topik Utama, level pikiran lapis kedua sebagai bagian dari Topik Sentral dan diletakkan sebagai “cabang”  yang melingkari “pohon”.
  3. Sub Topik, level pikiran lapis ketiga sebagai bagian dari cabang dan diletakkan sebagai  “ranting” (dan level pikiran lapis berikutnya)

Manfaat dari metode mind map adalah sebagai berikut:
  • Mempercepat pembelajaran, karena mampu memahami konsep yang sama dengan kerja otak ketika menerima pelajaran.
  • Melihat koneksi antar topik yang satu dengan yang lain yang memiliki keterkaitan.
  • Membantu brainstorming, mengasah kemampuan otak untuk bekerja.
  • Membantu ide serta gagasan yang mengalir karena tidak selalu ide dan gagasan dapat mudah direkam.
  • Melihat gambaran suatu gagasan secara luas dan besar, sehingga membantu otak bekerja secara maksimal dan berpikir besar terhadap suatu gagasan.
  • Menyederhanakan struktur ide dan gagasan tersebut.
  • Memudahkan untuk mengingat ide dan gagasan tersebut.
  • Meningkatkan daya kreatifitas dan inovatif