Kamis, 26 Januari 2017

GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH)

GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH)
by: @ArtieTeja

DSM III mendefinisikan GPPH dengan 3 gejala utama, yaitu: inatensi (tidak ada perhatian, tidak menyimak), impulsivitas (tidak sabar) dan hiperaktivitas. Dikemukakan 2 jenis GPPH, yaitu: 1) gangguan defisit atensi dengan hiperaktivitas dimana ketiga gejala kardinal tersebut diatas ditemukan, dan 2) gangguan defisit atensi tanpa hiperaktivitas, yang mempunyai gejala inatensi dan impulsivitas, tanpa hiperaktivitas. 

Gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas (GPPH) merupakan kumpulan masalah dari pada proses belajar dan tingkah laku yang menyebabkan gangguan fungsi berfikir dan berperilaku. Masalah belajar dan tingkah laku ini disebabkan oleh perbedaan atau penyimpangan dari fungsi otak, terutama mengenai bagian otak yang mengontrol proses berfikir dan yang menginhibisi perilaku anak (lobus frontalis dan daerah sekitarnya). 10%-50% anak dengan memperlihatkan gejala gangguan perilaku berupa agresi, sering merusak, sering membantah, membohong dan sering membolos.

Berdasarkan definisi yang disetujui dan diterbitkan oleh The National Institute of Mental Health bahwa Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH) adalah suatu sindroma dengan karakteristik umum sebagai berikut:
§  Inatensi (tidak dapat memusatkan perhatian)
§  Distraktibility (mudah teralih perhatiannya)
§  Impulsivity (impulsif)
§  Hyperactivity (hiperaktif)

Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP) adalah suatu gangguan pada otak yang mengakibatkan kesulitan konsentrasi dan pemusatan perhatian. 80% pasien GPP memperlihatkan kesulitan belajar dan kelainan perilaku. GPPH diperkirakan berasal dari berbagai faktor, antara lain:
1. Faktor genetik terutama pada anak laki-laki, 2. Gangguan pada masa prenatal dan perinatal, 3. Ibu hamil yang kecanduan alkohol, 4. Akibat trauma kepala, 5. Keracunan timbal, zat pewarna dosis tinggi dalam makanan, dan 6. Psikososial. 

Biasanya anak yang mengalami GPPH akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a) Gangguan perhatian. Anak tidak mampu memusatkan perhatiannya kepada sesuatu hal atau obyek tertentu untuk jangka waktu yang cukup lama. Beberapa ahli menyebutkan perhatian anak pada kelompok ini kurang dari 10 detik. 
b) Distraktibilitas. Akibat kekurangan perhatian, anak GPPH mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan rangsang yang kurang menonjol, yang dapat berupa distraktiblitas visual (penglihatan), auditoris (pendengaran) dan internal. Pada distraktiblitas visual, konsentrasi visual dialihkan ke benda-benda yang dilihatnya. Kedua matanya terus menerus menyelidik dan mencari pengalaman visual yang lebih baru serta lebih baik, Akibatnya anak GPPH sering memperlihatkan kekeliruan khas sewaktu membaca dan cenderung melompati kata-kata atau bahkan melewati begitu saja kalimatnya. Pada distraktibilitas auditoris menyebabkan perhatian anak GPPH mudah teralih kepada suara-suara latar belakang. Pada distraktibilitas internal menyebabkan penderita terganggu oleh rangsangan yang berasal dalam dirinya berupa pikiran, ingatan maupun asosiasinya sendiri. Terlihat anak GPPH sering melamun sehingga tidak memperhatkan pelajaran di kelas.
c) Hiperaktivitas. Hiperaktivitas merupakan aktivitas motorik yang tingi dengan ciri-ciri aktivitas selalu berganti, tidak mempunyai tujuan tertentu, ritmis dan tidak bermanfaat. Anak hiperaktif lebih banyak mengalam gerakan mata diluar tugasnya, sehingga gerakan menoleh lebih banyak dibandingkan anak normal. Gejala tersebut akan berkurang sesuai dengan bertambahnya umur dan sebagian akan menghilang pada waktu masa remaja.
d) Impulsif. Anak dengan GPPH cenderung bertindak tanpa mempertimbangkan akibat tindakan itu. Mereka cenderung memberikan respon pertama yang masuk dalam pikirannya dan lebih senang "cepat selesai" dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mengutamakan ketelitian. Akibat impulsivitas: anak GPPH tidak tepat dalam membaca, mengeja, dan berhitung meskipun konsep dasarnya telah dikuasai dengan baik.
e)Tidak pernah puas. Biasanya anak GPPH akan selalu meminta pada orangtuanya dan bila keinginannya telah terpenuhi anak GPPH tidak akan puas begitu saja tetapi akan meminta hal lain. Dan rasa tidak puas tersebut tidak menimbulkan semangat yang positif tetapi justru negatif.
f)  Kurang ulet. Anak GPPH akan menunjukkan sifat kurang ulet dalam bekerja sehingga pekerjaannya jarang pernah selesai. Anak GPPH juga akan mudah lelah sehingga bila berpikir lama akan mudah menguap, menggeliat. Biasanya jam tidur juga tidak berimbang. Siang hari sukar tidur dan pada malam hari sering terbangun.
g) Selalu berubah. Perhatian anak GPPH akan sangat tergantung pada motivasinya. Pada motivasi yang tinggi fokus perhatian akan lebih tajam, misalnya: mengikuti acara televisi tertentu.
h) Kegagalan Sosial. Anak GPPH sulit untuk bekerjasama dengan anak lainnya, disebabkan antara lain: 
§    Anak GPPH tidak memperhatikan ekspresi wajah teman-temannya saat berkomunikasi. Hal tersebut disebabkan karena anak GPPH tidak mempunyai perhatian secara visual (distraktibilitas visual).
§    Anak GPPH tidak memperhatikan kata-kata teman-temannya. Hal tersebut disebabkan karena anak GPPH tidak mempunyai perhatian auditoris (distraktibilitas auditoris). 
§    Anak GPPH tidak memperhatikan terhadap isyarat umpan balik sosial.
§    Anak GPPH cenderung mengabaikan keseimbangan sosial dalam hal memberi,meminta dan berbagi.
i) Superfisialitas. Anak GPPH cenderung dangkal dalam hal minat dan semangatnya. Pada tahun-tahun pertama di sekolah dasar prestasinya culup baik karena pelajarannya belum terinci dan kompleks. Tetapi menginjak akhir SD atau awal SLTP, mulai timbul banyak kesulitan. Hal tersebut disebabkan disamping materi akademiknya semakin kompleks juga disebabkan karena anak GPPH hanya mau belajar garis besarnya saja.
j) Inkoordinasi. Anak GPPH sukar melakukan kegiatan motorik halus, sehingga mengalami kesulitan dalam mengikatkan tali sepatu, mengancingkan baju, dll.
k)Gangguan belajar. 80% anak GPPH akan mengalami kesulitan belajar. Hal itu disebabkan karena gangguan pemusatan perhatian biasanya terdapat bersama-sama dengan gangguan spesifik lainnya seperti kesulitan membaca, kesulitan berhitung. 

Pada umumnya orang tua dan guru menganggap gangguan pemusatan perhatian menyebabkan kesulitan belajar, sehingga dengan terapi pemusatan perhatian akan meningkatkan prestasi akademis. 

Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa dengan pengobatan, pada anak GPPH didapatkan adanya perbaikan perilaku dan kegiatan di sekolah sedangkan kemampuan membaca, mengeja dan matematika tidak meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan perhatian merupakan simptom penyerta kesulitan belajar dan bukan merupakan penyebabnya.

1 komentar: