Jumat, 20 November 2015

Tahap Perkembangan Personal dan Emosional Anak Usia Dini



Perkembangan sosial-emosional anak dimulai dari sifat egosentris (memandang permasalahan dari satu sisi), individual dan interaksi sosial. Anak-anak dapat mengekspresikan berbagai emosinya dengan cara yang unik. Erik Erickson membagi perkembangan emosional ada 4 tahapan, yaitu:
1.    Tahap trust vs mistrust (usia 0-1 tahun)
Pada tahap ini bayi yang berkembang kepercayaanya dan juga kasih sayang.  Anak mendapat rangsangan dari luar, seperti lingkungan dan kasih sayang ibu, maka anak akan merasa mampu dan unik dengan segala kelebihannya.
Anak akan merasa percaya diri, jika anak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dari lingkungan dan anak akan merasa curiga serta tidak percaya dengan orang lain, jika anak mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan dari lingkungan. Pada tahapan ini rangsangan positif dari luar sangatlah penting dalam membentuk kepercayaan anak.
2.    Tahap autonomy vs shame and doubt (usia 2 tahun)
Pada tahap ini anak berkembang dari keterampilan fisik dan kompetisi otonomi, dilain pihak kompetensi rasa malu anak berkurang. Pada tahapan ini anak mampu menguasai peregangan atau pelemasan seluruh otot tubuhnya yang selanjutnya anak akan mengembangkan rasa percaya diri anak. Pada tahapan ini anak merasa mampu melakukan sesuatu dan marasa unik dengan segala kelebihan yang dimilikinya dengan bebas, maka anak akan merasa percaya diri. Tapi sebaliknya, bila lingkungan tidak memberikan kepercayaan dan banyak mendikte maka anak akan tumbuh dengan rasa malu dan ragu-ragu. Pada tahap ini orang dewasa perlu memberikan kesempatan pada anak untuk bereksperimen dan bereksplorasi terhadap lingkungannya untuk mejadi serba bisa.
3.    Tahap initiative vs guilt (usia 3-5 tahun)
Keberhasilan menjadi inisiatif, tapi dipihak lain kegagalan membuat perasaan bersalah. Pada tahapan ini anak harus dapat menunjukan sikap inisiatif, yaitu mulai lepas dari ikatan orang tua, bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungan. Pada masa ini tahap perkembangan emosionalnya lebih baik dari pada tahapan sebelumnya, sehingga anak berpotensi untuk berkembang kearah yang positif (kreativitas, banyak ide, imajinasi, berani mencoba, berani mengambil resiko dan senang bergaul dengan teman sebayanya.
4.    Tahap industry vs inferiority (usia 6-11 tahun)
Tahapan ini merupakan masa kritis bagi anak dalam mengembangkan rasa percaya dirinya. Masa ini anak sudah mampu bereksplorasi terhadap lingkungan. Anak sangat antusias untuk belajar dan berimajinasi, sehingga anak dapat tumbuh dengan sikap berkarya, berhasil, bermotivasi tinggi dan beretos kerja, untuk itu orang tua harus mendukung dan memberikan respon positif.
Anak usia dini (0–8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan, maka usia dini dikatakan sebagai golden age (usia emas) yaitu usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik. Selain tahap perkembangan, anak usia 0-8 tahun mempunyai beberapa karakteristik perkembangan sosial-emosional.
a.    Usia 0-1 tahun, anak mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontrak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi.
b.    Usia 2-3 tahun, Anak mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan menstimulasi, karena emosi lebih banyak ditentukan oleh  lingkungan.
c.    Usia 4-6 tahun, pola bermain anak masih bersifat individu, tapi aktifitas bermain dilakukan anak secara bersama.
d.    Usia 7-8 tahun, pada usia ini anak mulai ingin melepaskan diri dari otoritas orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan anak selalu bermain di luar rumah bergaul dengan teman sebaya. Anak mulai menyukai permainan sosial, bentuk permainan yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi. Perkembangan emosi anak sudah mulai berbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar