Rabu, 25 November 2015

Permasalahan Sosial pada Anak TK


Beberapa permasalahan sosial yang biasa dihadapi oleh anak usia TK di antaranya:
 

1. Malajustment
Individu yang penyesuaian dirinya buruk. Ada 2 jenis maladjustment yaitu (a) anak puas terhadap tingkah lakunya tetapi lingkungan social tidak dapat menerima; dan (b) tingkah laku diterima lingkungan sosial tetapi menimbulkan konflik yang berkepanjangan pada anak.
Hal yang paling mendasar dalam mencegah  timbulnya maladjustment adalah usaha meningkatkan pengenalan terhadap diri dan lebih realistik terhadap kemampuan sendiri. Dukungan lingkungan sangat berpengaruh karena usaha perbaikan akan sia-sia, apabila lingkungan tetap menuntut sesuatu yang tidak realitas.

2. Egosentris
Anak dikatakan egosentris apabila lebih peduli terhadap dirinya sendiri daripada orang lain. Mereka  lebih banyak berfikir dan berbicara mengenai diri sendiri dan aksi mereka semata-mata untuk keuntungan pribadi.  Tiga hal yang mendasari egosentrisme, yaitu merasa superior, merasa inferior, dan merasa menjadi korban.

3. Anak yang Terisolasi
Isolated child merupakan anak yang terisolasi dari lingkungannya. Anak mengalami masalah penerimaan sosial. Kategori penerimaan anak dalam lingkungan sosial sebagaimana yang dikemukakan Hurlock (1978) adalah sebagai berikut:
a.  Star, yaitu anak yang disenangi oleh lingkungan temannya sehingga popular.
b. Accepted, yaitu anak yang cukup dapat diterima lingkungan temannya sehingga cukup popular.
c. Climber, yaitu anak yang berusaha untuk diterima oleh lingkungan teman sebayanya dengan mengikuti keinginan/peraturan lingkungan. Anak selalu takut apabila tidak mengikuti akan kehilangan teman.
d.  Finger (pinggiran), anak seperti golongan climber tetapi lebih takut tidak diterima.
e. Ineglected, yaitu anak yang ditolak lingkungan sebab mereka pemalu, menolak atau membuat ulah yang negative.
f. Isolate, yaitu anak yang terisolasi dari lingkungan teman sebayanya karena tidak ada motivasi dalam diri anak itu untuk bergaul atau anak tidak menarik bagi lingkungannya.


4.  Agresif
Agresif merupakan tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau baru berupa ancaman yang disebabkan adanya rasa permusuhan. Tingkah laku ini sering muncul sebagai reaksi terhadap frustasi. Agresi juga sering timbul karena tingkah laku agresif yang sebelumnya mengalami penguatan. Selain itu, tingkah laku orang tua sering dicontoh oleh anak.

5. Negativisme
Negativisme adalah perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, namun secara bertahap berubah menjadi penolakan secara lisan untuk menuruti perintah. 

6. Pertengkaran
Pertengkaran merupakan perselisihan pendapat yang mengandung kemarahan. 

7. Mengejek dan Menggertak
Mengejek merupakan serangan secara lisan terhadap orang lain, sedangkan menggertak merupakan serangan yang bersifat fisik.

8. Perilaku yang Sok Kuasa
Perilaku sok kuasa adalah perilaku yang berkecenderungan untuk mendominasi orang lain atau menjadi “bos”. 

9. Prasangka
Menurut Hurlock (1991) prasangka ini terbentuk pada masa kanak-kanak tatkala anak melihat adanya perbedaan sikap dan penampilan di antara mereka, dan perbedaan ini dianggap sebagai tanda kerendahan.
 

Faktor penyebab terbentuknya perilaku sosial bermasalah, yaitu (1) Sikap orang tua yang overprotected; (2) Sikap orang tua yang pencela, membandingkan, dan mencemooh anak; (3) Sempitnya kesempatan bergaul dengan anak lain; (4) Pola asuh otoriter; dan (5) Lingkungan yang buruk.



Penanganan gangguan sosial di TK yaitu melalui sosialisasi (proses penyesuaian diri anak terhadap adat istiadat, dengan kebiasaan dan cara hidup lingkungan). Apakah anak akan belajar menjadi orang yang terampil bergaul atau justru sebaliknya tergantung empat faktor berikut:
1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia serta latar belakang yang berbeda.
2. Anak tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat dipahami, tetapi juga dapat membicarakan  dengan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain.
3. Anak punya motivasi untuk bergaul.
4. Adanya bimbingan. Metode yang paling efektif untuk dapat belajar bergaul dengan baik adalah lewat bimbingan dari orang yang dapat dijadikan model bergaul yang baik oleh anak.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar