Kamis, 19 Desember 2013

Metode Pendidikan Islam Pada Anak



I.          PENDAHULUAN
Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukkan bahwa ia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak dirancang oleh Allah SWT untuk dapat hidup secara langsung  tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu dimulai dengan orang terdekatnya. Proses belajar itulah yang kemudian menjadi basis pendidikan. Aktivitas pendidikan terkait dengan perubahan yang secara moral bersifat lebih baik, ciri perubahan atau kemajuan secara fundamental adalah terjadinya perkembangan internal diri manusia yatu keimanan dan ketaqwaan, bukan hanya perubahan eksternal yang cenderung bersifat material yang dapat menghancurkan keimanan dan ketaqwaan manusia. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Masalahnya adalah bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak tebatas, bersifat subyektif yang sering justru dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan rohaninya. Produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdayai orang lain, kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egois.[1]
Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri  anak, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan orang tua ataupun pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai anak. Dalam pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan. Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan.[2]
Nabi Muhammad SAW sejak awal sudah mencontohkan dalam mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Nabi Muhammad SAW juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah SWT dan syari’at-Nya. Makalah ini akan menyajikan ayat al-Qur’an dan hadis-hadis tentang metode pendidikan Islam pada anak.

II.       RUMUSAN MASALAH
A.     Bagaimana Pendekatan Pendidikan Islam?
B.     Bagaimana Metode Pendidikan Islam pada Anak?
C.     Apa Macam-Macam Metode Pendidikan Islam?
D.     Bagaimana Penjelasan Dari Ayat Al-Qur’an Tentang Metode Pendidikan Islam pada Anak?

III.    PEMBAHASAN
A.     Pendekatan Pendidikan Islam
Sebagai aktivitas yang begerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, Pendidikan Islam memerlukan landasan kerja yang memberi arah bagi program yang akan dilakukan. Landasan tersebut terutama berasal dari Al-Qur’an maupun Hadis Nabi. Di antara ayat Al-Qur’an atau Hadis Nabi tersebut, Dalam QS. Asy-Syura: 52

“Dan demikian Kami wahyukan kepadamu Wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami mejadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami beri petunjuk dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar.” (QS.Asy-Syura: 52).  Rasulullah bersabda yang artinya sebagai beikut : “Sesungguhnya orang mukmin yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak, taat kepada-Nya dan memberikan nasihat, sempurna akal pikirannya, serta menasihati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka ia beruntung dan memperoleh kemenangan” (Al-Hadis)
Dari ayat Al-Qur’an dan Hadis Rasul tersebut di atas dapat diambil kesimpulan sebagai dasar pendidikan Islam yaitu sebagai berikut :
1.Bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridlai Allah SWT.
2.Menurut sabda Rasul, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
3.Al-Qur’an dan Hadits tersebut menerangkan  bahwa Nabi adalah seorang pemberi petunjuk jalan lurus dan selalu memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan dan pendidikan Islam.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikemukakan pula bahwa pendidikan Islam dalam mengupayakan agar materi pendidikan dan pengajaran Islam dapat diterima oleh obyek pendidikan yang dalam pelaksanaannya meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Pendidikan religius yang menitik beratkan kepada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berjiwa religius dengan bakat-bakat keagamaan.
b. Pendekatan filosofis yang memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional, sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya didasarkan pada sejauh mana kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan sampai pada titik maksimal perkembangannya.
c. Pendekatan sosio kultural yang tertumpu pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berkebudayaan sehingga dipandang sebagai homo sosius dan homo sapiens dalam kehidupan bermasyarakat yang berkebudayaan. Dengan demikian pengaruh lingkungan masyarakat dan perkembangan kebudayaannya sangat besar artinya bai proses pendidikan dan individunya.
d. Pendekatan scientific dimana titik beratnya terletak pada pandangan bahwa manusia memiliki kemampuan menciptakan (kognitif), berkemauan (konatif) dan merasa (emosional atau efektif). Pendidikan harus dapat mengembangkan kemampuan analitis-analitis dalam berpikir.
B.     Pengertian Metode Pendidikan Islam pada Anak
Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara.[3] Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Jika metode tesebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi Islami, selain itu metode dapat membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam pendidikan Islam, metode yang tepat guna bila ia mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Dari rumusan-rumusan di atas dapat dimaknai bahwa metode pendidikan Islam adalah berbagai macam cara yang digunakan oleh orang tua atau pendidik secara Islami sesuai syari’at agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Rasulullah SAW bersabda : "Tidaklah orangtua memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih utama selain dari pendidikan yang baik " (HR. Tirmidzi & Thabrani). Dalam bahasa Arab, kata metode diungkapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata al-Thariqah, manhaj, dan al-washilah. Al-Thariqah berarti jalan,manhaj berarti sistem, dan al-washilah berarti perantara atau mediator.
Tentang fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu.[4]  Metode berfungsi mengantarkan pada suatu tujuan kepada obyek sasaran tersebut. Dalam al-Qur’an dijelaskan metode dikenal sebagai sarana untuk menyampaikan pada seseorang tujuan penciptaannya sebagai khalifah di muka bumi ini dengan melaksanakan pendekatan di mana manusia ditempatkan sebagai makhluq yang memiliki potensi rohaniah dan jasmaniah, yang keduanya dapat digunakan sebagai saluran penyampaian materi pelajaran. Karenanya, terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan. Banyak metode yang ditawarkan para ahli sebagaimana dijumpai dalam buku-buku kependidikan lebih merupakan usaha mempermudah atau mencari jalan paling sesuai dengan perkembangan jiwa si anak dalam menerima pelajaran. 
Agar proses pembelajaran tidak menyimpang dari tujuan pendidikan Islam, orang tua atau pendidik dalam menggunakan metodenya harus berpegang kepada prinsip-prinsip yang berlandaskan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, M. Arifin menetapkan sembilan prinsip yang harus dipedomani dalam menggunakan metode pendidikan Islam pada anak, kesembilan prinsip tersebut adalah : [5]
1.Prinsip memberikan suasana gembira
2.Prinsip memberikan layanan dengan lemah lembut 
3.Prinsip kebermaknaan 
4.Prinsip prasyarat 
5.Prinsip komunikasi terbuka 
6.Prinsip pemberian pengetahuan baru
7.Prinsip memberikan model perilaku yang baik
8.Prinsip pengalaman secara aktif
9.Prinsip kasih sayang 
C.     Macam-macam Metode Pendidikan Islam pada Anak
Sebelum Nabi Muhammad SAW memulai tugasnya sabagai Rasul, yaitu melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya, Allah SWT telah mendidik dan mempesiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, melalui pengalaman, pengenalan serta peran sertanya dalam kehidupan masyarakan dan lingkungan budayanya, dengan potensi fitrahnya yang luar biasa. Berdasarkan hadis-hadis yang ada, dalam konteks pembelajaran, Nabi Muhammad SAW sangat kaya dengan strategi dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikannya, sehingga tujuan pendidikan yang dikehendaki dapat tercapai dengan baik.
Yang dimaksudkan dengan metode pendidikan di sini adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik anak. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, mengatakan bahwa metode pendidikan yang dapat diterapkan seorang pendidik atau orang tua dalam memberikan pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya sehingga anak dapat mencapai kematangan kepribadian muslim yang sempurna adalah sebagai berikut :[6]
  1. Pendidikan dengan keteladanan.
  2. Pendidikan dengan adat kebiasaan.
  3. Pendidikan dengan nasihat.
  4. Pendidikan dengan memberikan perhatian.
  5. Pendidikan dengan memberikan hukuman.
Menurut pemikiran Ulwan, apabila metode-metode tersebut diterapkan dalam pendidikan anak khususnya dalam keluarga, maka secara bertahap mereka para orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi kehidupan dan pasukan-pasukan yang kuat untuk kepentingan Islam (sebagai penegak ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan).
Bertolak dari dasar pandangan tersebut di atas, Al-Qur’an menawarkan berbagai pendekatan dan metode dalam pendidikan Islam, yakni dalam menyampaikan materi pendidikan. Metode tersebut antara lain :[7]
1.                  Metode Teladan
Dalam al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat di belakangnya seperti sifat hasanah yang berarti baik. Sehingga terdapat  ungkapan usawatun hasanah yang artinya teladan yang baik. Metode ini dianggap penting karena aspek agama yang terpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan afektif yang terwujud dalam bentuk tingkah laku (behavioral). 
 2.                  Metode Kisah Kisah atau cerita
Sebagai suatu metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh peraasaan. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu, Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Ia menggunakan berbagai jenis cerita; cerita sejarah faktual yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia yang ditampilkan oleh contoh tersebut.
3.      Metode Nasihat
Al-Qur’an al-Karim juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengrahkan masusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah yang kemudian yang dikenal sebagai nasihat. Tetapi nasihat yang disampaikannya ini selalu disertai dengan panutan atau teladan dari si pemberi atau penyampai nasihat itu. Ini menunjukkan bahwa antara satu metode dengan nasihat dengan metode lain yang dalam hal ini keteladanan bersifat saling melengkapi. Maka menurut al-Qur’an metode nasihat itu hanya diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan, dan ini walaupun jarang bisa terjadi. Dengan demikian nampaknya metode nasihat lebih ditujuakan kepada murid-murid atau siswa-siswa yang kelihatannya melanggar peraturan. Ini menunjukkan dasar psikologi yang kuat, karena orang pada umumnya kurang senang dinasihati, apalagi kalau nasihat itu ditujukan kepada pribadi tertentu. Selain itu, metode nasihat juga menunjukkan ada perbedaan status antara yang dinasihati dan yang menasihati. Yang menasihati berada pada posisi yang lebih tinggi dari pada yang dinasihati. Lebih-lebih lagi jika yang dinasihati itu datangnya dari seseorang yang kurang mereka senangi. Nasihat serupa ini tidak banyak artinya. Berbeda dengan nasihat yang diberikan oleh orang yang disukai secara obyektif. Mereka justru meminta atau senang diberi nasihat. Nampaknya nasihat yang diberikan terlebih dahulu harus didasarkan kepada kepribadian yang teladan dan baik dari orang yang menasihati itu. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan nasihat sebagai salah satu cara untuk manyampaikan suatu ajaran. Al-Qur’an berbicara tentang penasihat, yang dinasihati, obyek nasihat, situasi nasihat dan latar belakang nasihat. Karenanya, sebagai suatu metode pengajaran nasihat dapat diakui kebenarannya. 
4.      Metode Pembiasaan
Cara lain yang digunakan oleh al-Qur’an dalam memberikan materi pendidikan adalah melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang negatif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai suatu yang istimewa. Ia menghemat banyak sekali kekuatan manusia, karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang pekerjaan, berproduksi, dan kreativitas lainnya. Al-Qur’an menjadikan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan. Lalu ia mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaanyang mudah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Selain itu al-Qur’an juga menciptakan agar tidak terjadi kerutinan yang kaku dalam bertindak, dengan cara terus menerus mengingatkan tujuan yang ingin dicapai dengan kebiasaan itu, dan dengan menjalin hubungan yang hidup antar manusia dan Allah dalam satu hubungan yang dapat mengalirkan berkas cahaya ke dalam hati sehingga tidak gelap gulita. Dalam upaya menciptakan kebiasaan yang baik ini al-Qur’an antara lain menempuh melalui dua cara sebagai berikut : 
Pertama, dicapainya melalui bimbingan dan latihan. 
Kedua, dengan cara mengkaji aturan-aturan Tuhan yang terdapat di alam raya yang bentuknya amat teratur.
5.      Metode Hukuman dan Ganjaran
Muhammad Quthb mengatakan : “Bila teladan dan nasihat tidak mampu, maka pada waktu itu harus diadakan tindakan tegas yang dapat meletakkan persoalan di tempat yang benar.[8] Tidakan tegas itu adalah hukuman. Islam memandang bahwa hukuman bukan sebagai tindakan yang pertama kali yang haurs dilakukan oleh seorang pendidik atau orang tua, dan bukan pula cara yang didahulukan. Nasihatlah yang paling didahulukan.
6.      Metode Ceramah (Khutbah)
Ceramah atau khutbah termasuk cara yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang lain mengikuti ajaran yang telah ditentukan. Metode ceramah ini dekat dengan kata tabligh yaitu menyampaikan sesuatu ajaran. Pada masa sekarang ini, istilah tabligh termasuk ceramah amat populer dan banyak digunakan termasuk dalam pengajaran, karena metode ini termasuk yang paling mudah, murah, dan tidak banyak memerlukan peralatan. Daya tarik ceramah, atau tabligh bisa berbeda-beda, tergantung kepada siapa pembicaranya, bagaimana pribadi si pembicara itu, dan bagaimana bobot pembicaraannya itu, dan apa prestasi yang telah dihasilkannya.[9] Semua ini akan menjadi catatan yang mendasari daya tarik tabligh yang disampaikan.                                          
7.      Metode Diskusi
Metode diskusi juga diperhatikan oleh al-Qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah.
8.      Metode Lainnya
Al-Qur’an sebagai kitab suci tidak pernah habis digali isinya. Demikian juga tentang masalah metode pendidikan ini, masih bisa dikembangkan lebih lanjut. M. Arifin, misalnya menyebutkan tidak kurang dari 15 metode pendidikan yang dapat diambil dari al-Qur’an yang diantaranya metode-metode yang telah disebutkan di atas. Sedangkan metode lainnya disebut metode perintah dan larangan, metode pemberian suasana (situasional), metode mendidik secara kelompok (mutual education), metode instruksi, metode bimbingan dan penyuluhan, metode perumpamaan, metode taubat dan ampunan, dan metode penyajian.[10] Namun, metode-metode yang disebutkan terakhir ini kurang populer, sedangkan yang populer adalah metode-metode yang disebutkan terdahulu.
Beberapa strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW antara lain : [11]
1.      Mendidik dengan Contoh Teladan 
Nabi Muhammad SAW merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui tindakan, dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalan kata-akata. Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah salah satu strategi pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya, hal ini sudah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai  hasilnya, apapun yang dijarkan dapat diterima dengan segera dari dalam keluarga dan oleh masyarakat pengikutnya. Apa yang dilihatnya akan ia tirukan dan lama kelamaan akan menjadi tradisi bagi anak. Hal ini sesuai firman Allah SWT QS. al-Ahzab ( 33): 21 yang artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan al-Qur’an secara utuh. Beberapa perilaku Nabi Muhammad SAW yang menjadi “uswah hasanah” antara lain : [12]
a.Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW
b.Kedermawanan Nabi Muhammad SAW 
c.Tertawa Nabi Muhammad SAW
d.Senda Gurau Nabi Muhammad SAW
e.Pergaulan Nabi Muhammad SAW 
Dalam hal keteladanan ini, lebih jauh Abdullah Nashih Ulwan menafsirkan dalam beberapa bentuk, yaitu:[13]
a. Keteladanan dalam ibadah.
b. Keteladanan bermurah hati.
c. Keteladanan kerendahan hati.
d. Keteladanan kesantunan.
e. Keteladanan keberanian.
f. Keteladanan memegang akidah.
2.  Mendidik dengan Targhib dan Tarhib
Kata Targhib berasal dari kata kerja ragghaba yang berarti; menyenangi, menyukai dan mencintai, kemudian kata itu diubah menjadi kata benda targhib yang mengandung makna suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan dan kebahagiaan. Semua itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang dapat merangsang/mendorong sesorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya. Secara psikologi, cara itu akan manimbulkan daya tarik yang kuat untuk menggapainya. Sedangkan istilah tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti; penakut-nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang berarti ancaman atau hukuman. Untuk kedua istilah itu, Al-Nahlawi mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan yang membuat senang terhadap suatu yang maslahat, terhadap kenikmatan atau kesenangan akhirat yang baik dan pasti serta suka kepada kebersihan dari segala kotoran, yang kemudia diteruskan dengan melakukan amal saleh dan menjauhi kenikmatan selintas yang mengandung bahaya dan perbuatan buruk. Sementara tarhib ialah suatu ancaman atau siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang Allah SWT, atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW dalam rangka menyampaikan pendidikan kepada masyarakat terkadang dengan ungkapan yang bersifat pemberian rangsangan (targhib) atau dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat ancaman (tarhib), kedua sifat ungkapan ini dilakukan oleh Rasulullah SAW semata-mata sebagai sebuah strategi, agar pesan-pesan pendidikan dapat sampai kepada obyek pendidikan. Beberapa bentuk dari targhib dan tarhib yang dilakukan oleh Rasulullah SAW antara lain adalah : [14]
a. Bentuk-bentuk Targhib (rangsangan), yaitu: rangsangan untuk mau menolong antar sesama, rangsangan agar mau selalu beribadah, rangsangan untuk bersikap sabar, rangsangan untuk beramal kebaikan, dan rangsangan untuk selalu bekerja keras.
b. Bentuk-bentuk Tarhib (ancaman), yaitu: ancaman bagia orang yang sombong, ancaman bagi orang yang bersumpah palsu, ancaman bagi yang memfitnah, dan ancaman bagi yang berlaku zalim.
 3.Mendidik dengan Perumpamaan (Amtsal)
Perumpamaan dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu strategi pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada obyek sasaran materi pendidikan semudah mungkin, sehingga kandungan maksud dari suatu materi pelajaran dapat dicerna dengan baik, strategi ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Beberapa contoh pendidikan Rasulullah SAW yang menggunakan perumpamaan sebagai salah satu strateginya, antara lain sebagai berikut :
a.Perumpamaan orang bakhil dan dermawan 
b.Perumpamaan orang yang suka memberi dan suka meminta
c.Perumpamaan kawan baik dan jelek
 4.Mendidik dengan Nasihat
Nabi Muhammad SAW sering sekali kedatangan masyarakat dari berbagai kalangan, mereka datang kepada Nabi Muhammad SAW khusus untuk meminta nasihat tentang berbagai hal, siapa saja yang datang untuk meminta nasihat kepada Rasulullah SAW beliau selalu memberikan nasihat sesuai dengan permintaan, selanjutnya nasihat tersebut dijadikan pegangan dan landasan dalam kehidupan mereka. Beberapa contoh pembelajaran Nabi melalui nasihat antara lain sebagai berikut :[15]
a.Nasihat tentang menjaga amanat
b.Nasihat tentang memelihara ucapan
c.Nasihat tentang kesadaran akan dosa  
Pemberi nasihat seharusnya orang yang berwibawa di mata anak. Dan pemberi nasihat dalam keluarga tentunya orang tuanya sendiri selaku pendidik bagi anak. Anak akan mendengarkan nasihat tersebut, apabila pemberi nasihat juga bisa memberi keteladanan. Sebab nasihat saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan keteladanan yang baik. Anak tidak akan melaksanakan nasihat tersebut apabila didapatinya pemberi nasihat tersebut juga tidak melaksanakannya. Anak tidak butuh segi teoritis saja, tapi segi praktislah yang akan mampu memberikan pengaruh bagi diri anak.
Nasihat yang berpengaruh, membuka jalannya ke dalam jiwa secara langsung melalui perasaan. Setiap manusia (anak) selalu membutuhkan nasihat, sebab dalam jiwa terdapat pembawaan itu biasanya tidak tetap, dan oleh karena itu kata–kata atau nasihat harus diulang–ulang.[16] Nasihat akan berhasil atau mempengaruhi jiwa anak, tatkala orangtua mampu memberikan keadaan yang baik.
5.Mendidik dengan cara memukul
Dalam hal tertentu, khusunya untuk membiasakan mengerjakan shalat bagi setiap muslim sejak dini, Rasulullah SAW menganjurkan kepada setiap orang tua untuk menyuruh (dengan kata-akata) kepada setiap anaknya, ketika mereka berusia tujuh tahun agar mau melaksanakan ibadah shalat, selanjutnya Rasulullah SAW menganjurkan jika pada usia sepuluh tahun belum mau melaksanakan shalat maka pukullah ia. Perintah memukul ini mengandung makna yang sangat dalam, mengingat Rasulullah SAW sendiri dalam kontek pendidikan, tidak pernah memukul (dengan tangan) selama hidupnya. Perintah ini hanyalah menunjukkan ketegasan Rasulullah SAW untuk menanamkan kebiasan positif yang harus dimulai sejak anak-anak.
Hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Amir ibn Syuaib dari ayahnya daria kakeknya berkata : “Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat di kala mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena mereka tidak mengerjakannya di kala mereka berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya” Memukul dalam hal ini tidak dilandasi oleh emosional dan kemarahan, tetapi sebaliknya memukul dalam konteks Hadis di atas harus dilandasi dengan kasih sayang, keikhlasan dan dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT. Dalam peristiwa yang lain (bukan dalam hal shalat) Rasulullah SAW bersabda; bahwa sebaiknya pukulan itu dilakukan tidak berkali-kali, bahkan cukup satu kali saja. Hadits riwayat Bukhari dari Anas ibn Malik ra. “... Sesungguhnya kesabaran itu ketika pukulan pertama”
D.    Penjelasan Ayat Al-Qur’an Tentang Metode Pendidikan Islam pada Anak
Dalam penjelasan ayat al-Qur’an tentang metode pendidikan Islam pada Anak seperti sudah diulas dalam bab di makalah ini yang terdapat beberapa metode Rasulullah dalam mendidik anak dalam Islam maka pada bab ini akan diambil satu metode yang utama dengan mengulas menggunakan ayat al-Qur’an dan hadis. Metode Rasulullah dalam mendidik anak yang utama yaitu metode keteladanan, dimana keteladanan adalah ruh dari pendidikan. Dengan keteladanan, pendidikan menjadi bermakna. Oleh karena itu anak-anak perlu diarahkan untuk mengidolakan atau meneladani Nabi Muhammad SAW serta orang-orang terbaik yang mengikuti teladannya seperti para ulama dan mujahidin. Allah berfirman dalam QS. Al- Ahzab 33: 21 sebagai berikut, "teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah".
            Tidak diragukan lagi, keteladanan merupakan metode pendidikan yang sangat efektif. Tidak jarang, hanya dengan bekal keteladanan, tanpa harus banyak berbicara, banyak orang tergerak untuk melakukan sesuatu. Keteladanan tidak hanya berlaku dalam hal kebaikan. Dalam hal keburukan pun ada proses peneladanan terhadap orangtuanya. Jika orangtua tidak dapat menunjukkan keteladanan yang baik kepada anak, maka anak akan meneladani keburukan orangtuanya itu. Keteladanan merupakan kekuatan kunci dari pendidikan Rasulullah SAW. Untuk mengetahui bentuk keteladanan alangkah baiknya kita salami hidup Rasulullah SAW lebih dalam. Beliau memerintahkan kita untuk hidup sederhana, maka  beliau sendiri yang pertama mencontohkannya. Baihaqi meriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., “ Selama tiga hari berturut-turut, Rasulullah SAW tidak merasa kenyang. Dan jika kami inginkan, kami dapat mengenyangkan beliau, tapi beliau lebih suka mengenyangkan orang lain.” [17] Dalam QS. Luqman 31: 19 juga dijelaskan tentang kesederhanaan,
artinya: “ Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. Beliau juga seorang yang rendah hati dan masih banyak lagi contoh keteladanan yang ditunjukkan Rasulullah SAW yang tidak mungkin di bahas dalam ruang yang terbatas ini. Dalam QS. Luqman 31:18,
Ÿ 
Artinya: “ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. Salah satu wujud agar menjauhkan diri dari sifat sombong itu adalah sederhana dalam berjalan. Oleh karena itu seseorang hendaklah berjalan dengan sederhana agar ia tidak jauh kepada perilaku sombong yang sangat dibenci Allah SWT.

IV.        PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Islam memandang bahwa segala fenomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah SWT dan sekaligus tunduk kepada hukum-hukum-Nya, oleh karena itu anak harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam hukum Allah tersebut. Anak harus mampu mengorientasikan hidupnya kepada kekuatan atau kekuasaan yang berada di balik ciptaan alam raya serta mengaktualisasikan hukum-hukum Allah melalui tingkah laku dalam kegiatan hidupnya. Sebagai agama rahmatan lil’alamin, Islam mengandung prinsip-prinsip moralitas yang memandang manusia sebagai pribadi yang mampu melaksanakan nilai-nilai moral agama dalam hidupnya.
Oleh karena dengan tanpa nilai-nilai tersebut kehidupannya akan menyimpang dari fitrah Allah yang mengandung nilai Islam. Jadi dengan demikian pola dasar yang membentuk dan mewarnai sistem pendidikan Islam adalah pemikiran konseptual yang berorientasi kepada nilai-nilai keimanan, nilai-nilai kemanusiaan, serta nilai-nilai moral (akhlak) yang secara terpadu membentuk dan mewarnai tujuan pendidikan Islam, sedangkan usaha pencapaian tujuan pendidikan sesuai dengan pola dasar tersebut berlangsung dalam satu strategi metode pendidikan Islam.
Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan Islam atau Tarbiyah Islamiyyah masalah metode yang mendapat perhatian sangat besar. Al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam berisi prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk yang dapat dipahami dan diinterpretasikan menjadi konsep-konsep tentang metode. 
B.     SARAN
Demikianlah makalah ini saya susun sebagai bahan presentasi dalam diskusi metode pendidikan Islam pada anak. Oleh karena banyaknya hal belum tersaji dalam makalah ini maka di harapkan kritik dan sarannya dari peserta diskusi dan bimbingan serta arahan dari Dosen Pengampu yang akan sangat membantu untuk menyempurnakan makalah ini. Terima kasih dan semoga Allah melimpahkan hidayah ilmiah kepada kita semua. Semoga makalah yang jauh dari kesempurnaan ini bisa bermanfa’at bagi kita semua. Amin... 


 
 
DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Gaya Media Pratama, 2005.
Ad-Damsyiqi, Al-Hanafi, Ibnu Hamzah Al-Husaini, Asbab al-Wurud, Jakarta : Kalam Mulia, 2003.
Anwar, Qomari, Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa, Jakarta : Uhamka Press, 2003.
Chalil, Moenawir, Kelengkapan Tarkikh Nabi Muhammad SAW, (terj.), Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1994.
Gulen, M. Fethullah, Versi Teladan : Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. (Terj.), Jakarta : PT. Rosda Karya, 2002.
H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiplin, Jakarta : Bumi Aksara, cet. 1, 1991.
Imam Barnadib. Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta, 1990.
Nashih Ulwan, Abdullah, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, terj. Drs. Jamaludin Miri LC, “Pendidikan anak dalam Islam”, Jakarta: Pustaka Amani, Jilid I dan II , Cetakan ketiga, 2002.
Quthb, Muhammad, t.t, Terj. Salman Harun “Sistem Pendidikan Islam”, Bandung, Ma-arif, 1993.
Zarman, Wendi. Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah itu Mudah & Lebih Efektif. Bandung: Ruang Kata. 2011.



[1] Imam Barnadib. Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta , cet. 6. 1990. hal. 85.

[2] Anwar, Qomari. Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa.  Jakarta : Uhamka Press. 2003. hal.42.
[3] H. M. Arifin. Ilmu Pendidkan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiplin. Jakarta : Bumi Aksara, cet. 1.  1991. hal. 61.
[4] Ibid…….hal. 61.

[5] H. M. Arifin. Ilmu Pendidkan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiplin. Jakarta : Bumi Aksara, cet. 1. 1991. hal. 64

[6] Nashih Ulwan, Abdullah. Tarbiyatul Aulad fil-Islam, terj. Drs. Jamaludin Miri LC, “Pendidikan anak dalam Islam”. Jakarta: Pustaka Amani, Jilid I dan II , Cetakan ketiga. 2002.
[7] Imam Barnadib. Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta , cet. 6. 1990. hal: 85.

[8] Quthb, Muhammad, t.t, Terj. Salman Harun “Sistem Pendidikan Islam”, Bandung, Ma-arif, 1993.
[9] Imam Barnadib. Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta, 1990, hal. 61-82.
[10] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiplin, Jakarta : Bumi Aksara, cet. 1, 1991, hal.  75.
[11] Nashih Ulwan, Abdullah, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, terj. Drs. Jamaludin Miri LC, “Pendidikan anak dalam Islam”, Jakarta: Pustaka Amani, Jilid I dan II , Cetakan ketiga, 2002.
[12] Chalil, Moenawir, Kelengkapan Tarkikh Nabi Muhammad SAW, (terj.), Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1994.
[13] Nashih Ulwan, Abdullah, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, terj. Drs. Jamaludin Miri LC, “Pendidikan anak dalam Islam”, Jakarta: Pustaka Amani, Jilid I dan II , Cetakan ketiga, 2002.
[14] Gulen, M. Fethullah. Versi Teladan : Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. (Terj.). Jakarta : PT. Rosda Karya. 2002.

[15] Abudin Nata. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Gaya Media Pratama. 2005.
[16] Muhammad Quthb. t.t. Terj. Salman Harun “Sistem Pendidikan Islam”. Bandung : Ma-arif. 1993. hal.334.

[17] Zarman, Wendi. Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah itu Mudah & Lebih Efektif. Bandung: Ruang Kata. 2011. hal. 168.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar