Kamis, 23 Oktober 2014

Kecerdasan Visual-Spasial Anak Usia Dini Autis

Istilah kecerdasan visual-spasial muncul bersamaan dengan diketemukannya kecerdasan majemuk oleh Howard Gardner. Sebab kecerdasan visual-spasial merupakan salah satu bagian dari 9 kecerdasan majemuk yang dimunculkan olehnya. Howard Gardner mengenalkan dan mempublikasikan kecerdasan ini pada tahun 1983.[1]
Kecerdasan visual-spasial merupakan kemampuan untuk memahami gambar dan bentuk termasuk kemampuan untuk mengintepretasi dimensi ruang yang tidak dapat dilihat. Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial cenderung berpikir dengan gambar dan sangat baik ketika belajar melalui presentasi visual seperti film, gambar, dan permainan dengan alat peraga. Anak-anak dengan kecerdasan visual-spasial juga menyukai aktivitas menggambar, mengecat, mengukir, dan biasa mengungkapkan diri mereka melalui aktivitas seni.
Anak-anak autis paling baik belajar secara visual dan menyusun segala sesuatu secara visual (melalui penglihatan). Mereka suka melihat apa yang sedang dibicarakan agar dapat memahaminya. Mereka menyukai gambar, grafik, peta, tabel, ilustrasi, seni, puzzle, kostum, dan apapun yang tertangkap mata.[2] Anak yang cerdas visual-spasialnya berbakat untuk menjadi seorang arsitek atau disainer di masa dewasanya nanti. Dalam bukunya Howard Gardner menyatakan hanya sedikit anak berbakat di antara artis yang tidak buta, tetapi ada idiot savant seperti Nadia (Selfe, 1977), walaupun menderita autisme berat, anak prasekolah ini membuat lukisan yang mewakili ketepatan dan kecerdikan paling luar biasa.[3]
Autisme adalah satu dari lima kelainan yang berada di bawah Pervasive Development Disorder (PDD), yaitu kelainan neurologis yang ditandai dengan kelemahan akut dan meluas dalam area pertumbuhan. Anak-anak dengan autisme biasanya menunjukkan kesulitan dalam komunikasi verbal dan non-verbal, interaksi sosial, dan kegiatan bermain atau bersenang-senang.[4] Biasanya, dalam metode pembelajaran untuk anak autis disesuaikan dengan kemampuan yang anak miliki, serta hambatan yang dimiliki anak saat mereka belajar, serta gaya belajar atau learning style pada masing-masing anak. Metode yang biasanya diberikan adalah bersifat kombinasi dari beberapa metode. Meskipun tidak terlalu banyak, ada juga anak yang menderita autisme yang memiliki respon yang baik terhadap stimulus visual-spasial sehingga metode belajar yang menggunakan stimulus visual-spasial sangat diutamakan bagi mereka.[5]
Menurut Dr. Hardiono, gangguan autisme ditandai tiga gejala utama yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku yang stereotipik.[6] Dikatakan bahwa penderita autis mempunyai kepekaan terhadap hal-hal yang bersifat audio dan visual yang terstimulasi oleh kejadian sehari-hari. Dalam hal ini, Kuntz menggaris bawahi bahwa kondisi tersebut sebagai kelebihan mereka.[7] Bisa jadi, bila hal ini merupakan kekuatan pada penderita autis maka kekuatan inilah yang menjadi peluang untuk membangun kemampuan mereka.
Sebagian anak autis yang memiliki respon terhadap stimulus visual-spasial belajar lebih baik dengan menggunakan penglihatannya. Ciri anak autis dengan kekuatan visual-spasial adalah senang mainan puzzle, bentuk-bentuk, TV terutama film kartun, menyukai huruf, angka, dan kadang-kadang dapat membaca tanpa diajari. Media gambar dianggap  efektif  dalam pembelajaran anak autis. Dengan diperlihatkan gambar, anak autis dapat berkonsentrasi. Dengan melihat visualisasi  tersebut, anak autis meyerap dan menerima informasi lebih lama. Alat bantu visual dapat membantu anak autis mengerti tentang sesuatu, mengeri konsep, menyatakan keinginannya, membantu berkomunikasi dengan cara lain.
Autisme masa kanak-kanak merupakan gangguan pervasive yang ditandai dengan adanya kelainan atau ganguan perkembangan yang muncul sebelum usia tiga tahun. Ganguan ini ditandai oleh adanya hambatan dalam bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku serta minat yang terbatas dan diulang-ulang. Gangguan tersebut bersumber pada gangguan otak bagian interaksi sosial dan komunikasi, sehingga para penyandang autism mengalami kesulitan pada komunikasi verbal dan non verbal, interaksi sosial, aktivitas bermain dan bersantai. Kesulitan ini menyebabkan anak kesulitan melakukan interaksi dengan orang lain atau dunia luar. Autisme merupakan gangguan perkembangan pada anak-anak yang bercirikan anak seolah-olah hidup dengan dirinya sendiri dan seperti tidak ada kontak dengan orang lain.[8]
Dalam pedoman kurikulum untuk autisme terdapat materi yang mengembangkan kecerdasan visual-spasial yaitu materi pre-akademik terdiri dari:[9]
1)        Mencocokkan
a)      benda-benda yang identik.
b)      bentuk yang identik.
c)      Warna yang identik.
d)     Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda.
2)        Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri.
a)      Menyatukan pola.
b)      Menjahit pola.
c)      Menempel saku.
3)        Identifikasi warna (mengidentifikasi warna pola).
4)        Identifikasi bentuk (mengidentifikasi bagian-bagian pola).
Sehingga diharapkan dengan My Costume dapat memberikan efek pemfokusan dalam pembelajaran visual-spasial yang berimpilkasi pada perkembangan keceerdasan visual-spasial anak usia dini autis. Pengembangan My Costume akan dispesifikasikan pada aspek perkembangan pre-akademik yaitu mencocokan, menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri, identifikasi warna, dan identifikasi bentuk.


[1] Munif Chatib, Sekolahnya Manusia (Bandung : Kaifa, 2011), hlm. 70.
[2] George S. Morisson, Dasar-Dasar ..............., hlm: 86.
[3] Howard Gardner, Multiplle .................., hlm. 46.
[4] George S. Morisson, Dasar-Dasar................, hlm: 327.
[5] Aqila Smart, Anak Cacat Bukan Kiamat: Metode Pembelajaran & Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Yogyakarta: Katahati, 2010), hlm. 106.
[6] Kosasih. E, Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, Cet.1 (Bandung: Yrama Widya, 2012), hlm.45-46.
[7] Anne Nurfarina, Penelitian: Kreatif Dalam Konteks Pendidikan Seni Bagi Anak Autis (Sebuah Tinjauan Teoritis tentang Kreativitas),(Bandung: DKV STISI Telkom, 2011), hlm 13.
[8] Edi Purwanta, Modifikasi.............., hlm 115.
[9] Yayasan Autisme Indonesia, Panduan Kurikulum Untuk Autisme Kemampuan Awal, (Jakarta: YAI).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar