Senin, 16 November 2020
IBU
Sabtu, 07 September 2019
Parenting Kelas 6: Belajar dari Siti Hajar
Pengajian parenting dan motivasi wali murid kelas 6
Oleh : Ibu Eni Harjanti
Belajar Dari Siti Hajar
Anak adalah amanah, anak juga ujian kita sebagai orangtua.. ketika lelah melanda belajarlah dari Siti Hajar.
Siti Hajar berdoa untuk mendapatkan anak sholeh jauh sebelun beliau hamil atau di karuniai seorang anak.
Berdoalah tidak perlu meminta ini itu cukup memohon pada Allah SWT agar anak kita menjadi anak yang sholeh.
Anak sholeh pasti pintar, tp pintar blm tentu sholeh.
Tips siti hajar:
1. Doa mohon anak sholeh (Siti hajar dari sebelun hamil sudah berdoa kelak mendapatkan anak yang sholeh)
2. Indalbaitikal muharram: menempatkan anak2 yg dekat dgn Allah. Misal memilih sekolah, apa ada mushola/masjid, ada kegiatan mengaji, dan pendidikan agama lainnya
3. Liyuqimussolah: kurikulum pendidikan pertama utk anak yaitu mengenal Allah, pendidikan spiritual.
4. Mendidik anak supaya disukai banyak orang.
5. La'allakum yasykurun: membentuk pribadi yg pandai bersyukur, berpikir positif, produktif dan kontributif
Orangtua sebagai pendamping anak yang akan ujian akademik:
1. Mampu membangkitkan kepercayaan kepada anak. Bangun kepercayaan bahwa anak bisa, pintar, dll. Jangan jadi teroris utk anaknya (misal mengancam klo nilai jelek, mengejek soal spt itu saja ga bs). Pintar itu merupakan rahmat Allah yg diraih melalui belajar. Rahmat Allah perlu diraih dgn usaha/kerja keras, salah satunya belajar.
2. Mendampingi anak secara emosional, mendampingi dari hati. Tunjukkan mendampingi dgn senang, gembira.
3. Ajari, beri contoh bagaimana berpikir positif. Jagan ditakut2i nilai jelek. Bangun anak utk meraih nilai yg baik.
4. Bantu anak utk mempunyai persiapan yg rinci dan strategis
5. Belajar bersama-sama. Ketika anak belajar, ortu jg belajar.
6. Hargai usaha anak dan jangan membebaninya. Jangan beri target tp beri motivasi. Kesuksesan tdk berdasar nilai tp ttp harus motivasi utk bisa sukses.
7. Berdiskusi utk memecahkan masalah.
8. Mendiskusikan perasaan anak ketika dia senang, bahagia belajar jadi lebih mudah paham.
9. Memberikan dukungan dgn sepenuh hati dan memberi waktu istirahat.
Senin, 25 Maret 2019
Tipe Autisme Berdasarkan Kemampuan Berinteraksi
Tipe Autisme Berdasarkan Kemampuan Berinteraksi
Autisme merupakan neorubehavior disorder yang mempunyai tiga karakteristik utama yakni gangguan komunikasi, gangguan interaksi, dan gangguan maladaptive.
Ada penderita autistik yang asyik dengan dirinya sendiri, tapi ada juga yang masih bisa berinteraksi.
Berdasarkan kemampuan berinteraksinya, autis dibagi menjadi 3 tipe yaitu:
1. Tipe Aloof
Autisme tipe aloof adalah tipe yang sulit sekali berinteraksi bahkan dengan orang-orang terdekat (keluarganya). Pebderita, autistik tipe ini biasanya hanya "asyik" dengan dirinya sendiri, tidak peduli dan tidak membutuhkan kehadiran orang lain.
2. Tipe Pasif
Autisme tipe ini jika diarahkan maka masih mampu sedikit berinteraksi dengan orang lain, namun tentu saja mereka tidak mampu menjalin interaksi yang interaktif.
3. Tipe Aktif-aneh
Autisme tipe aktif-aneh adalah individu autistik yang disertai dengan ketidakmampuan berinteraksi dan sekaligus disertai dengan perilaku yang tidak bisa diam. Tipe ini yang sering tertukar dengan neurobehavior disorder lain yakni ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Karakteristik lain dari autisme adalah adanya perilaku yang tidak biasa atau disebut sebagai perilaku adaptive, contohnya: gazing (melihat objek dengan sudut mata), body rocking (melompat-lompat), flapping (tepuk-tepuk tangan), spinning (berputar-putar di sumbu badan).
Perilaku adaptive tersebut bisa muncul kapan saja, dimana saja, tanpa maksud untuk sengaja mendemonstrasikannya kepada pihak-pihak tertentu (cari perhatian).
Rabu, 19 Desember 2018
Model Touchpoint Dalam Konseling Pengasuhan
MODEL TOUCHPOINT DALAM KONSELING PENGASUHAN
📚Smart Parents, Happy Children: Kiat Praktis Membentuk Anak Sehat, Cerdas, dan Bahagia (T. Berry Brazelton, M.D. dan Stanley I, Greenspan, M.D.) - BIP
📝@ArtieTeja
Touchpoint adalah periode selama tiga tahun pertama kehidupan ketika dorongan perkembangan anak menghasilkan gangguan berat dalam sistem keluarga.
Touchpoint adalah semacam peta perkembangan anak yang dapat diketahui dan diantisipasi oleh kedua orangtua dan pemberi pelayanan.
Touchpoint berpusat pada tema pengasuhan yang sungguh-sungguh penting bagi orangtua (misalnya, memberi makan, disiplin, dll), lebih daripada tonggak-tonggak tradisional. Keberhasilan anak pada titik-titik itu dapat dilihat sebagai kesuksesan sistem keluarga.
Prinsip dasar dari model touchpoint adalah:
1. Hargai dan pahami hubungan antara konselor dengan orangtua.
2. Gunakan tingkah laku anak sebagai bahasa konselor.
3. Kenali apa yang konselor bawa dalam berinteraksi.
4. Beraedialah mendiskusikan masalah yang berada di luar peran tradisional konselor.
5. Carilah kesempatan untuk mendukung penguasaan orangtua.
6. Berfokuslah pada hubungan orangtua-anak.
7. Hargai semangat setiap saat konselor menemukannya.
8. Hargai ketidakteraturan dan kerapuhan sebagai kesempatan.
Kesadaran terhadap touchpoint dan strategi untuk menanganinya dapat membantu mengurangi pola negatif bahkan akan semakin penting sebagai kesempatan untuk mendukung para orangtua yang cemas.
Para konselor dapat menggunakan metode touchpoint sebagai kerangka kerja dalam setiap pertemuan dengan keluarga selama tiga tahun pertama kehidupan seorang anak.
Beberapa asumsi dasar tentang orangtua menjadi inti dari praktik touchpoint dalam keluarga.
Dari kerangka kerja touchpoint, panduan yang diberikan oleh konselor kepada orangtua lebih bersifat mendukung dan tidak menentukan, bisa berupa panduan antisipatif dengan melakukan dialog (diskusi). Sebagian dari hal ini, didasarkan pada bagaimana mereka mengatasi masalah terkait di masa lalu. Berbagi pengalaman dengan tauchpoint akan membantu orangtua untuk merasa lebih percaya kepada diri mereka sendiri dan anak-anak mereka.
Inti dari model touchpoint adalah panduan persiapan yang bersifat preventif, dengan pendekatan multidisipliner, dan berdokus pada kepentingan umum dalam diri anak yang juga dialami oleh orangtua dan pengasuh.
Touchpoint fokus pada pembentukan hubungan sebagai tujuan utuh dari interaksi orangtua dan praktisi dalam berbagai ragam lingkungan. Sehingga tujuannya adalah mengubah praktik individual dan mendorong perubahan dalam sistem yang lebih besar sehubungan dengan pengasuhan pada keluarga.
Tema-tema Utama Dalam Model Touchpoint
✅ Touchpoint sebelum kelahiran
1. Persiapan ( orangtua mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam dunia orangtua, baik secara fisik maupun mental).
2. Bayi-bayi yang dibayangkan (bayangan tentang kondisi bayi - mengubah pandangan mereka tentang kecemasan kondisi bayinya kelak).
3. Hubungan (penataan kembali hubungan yang menyertai persiapan menghadapi bayi - konselor memainkan peran dalam peta dukungan terhadap calon ibu).
4. Orangtua yang dibayangkan (calon orangtua akan merasa bangga sekaligus ragu dengan diri sendiri ketika mereja membayangkan diri mereka sebagai orangtua).
5. Kesehatan (orangtua perlu diyakinkan kembali bahwa bayi mereka baik-baik saja/sehat).
6. Emosi orangtua (orangtua mengalami emosi yang intens, sering kali berlawanan dan membingungkan mengenai kelahiran seorang bayi. Bayi berpengaruh terhadap rentang kekuatan dan kerapuhan emosi orangtua).
7. Bayi senyatanya (menghadapi kelahiran bayi, memberi dukungan ketika mereka mulai mengganti bayi yang mereka bayangkan dalam imajinasi mereka dengan anak yang sesungguhnya yang mereka dapatkan).
8. Kedekatan (mendorong ikatan emosi awal/bonding).
✅ Touchpoint minggu ke 3
1. Kelelahan orangtua
2. Pemberian makan/asi
3. Kepribadian
4. Hubungan
✅ Touchpoint minggu ke 6 - 8
1. Tingkah laku sosial
2. Kepercayaan diri orangtua
3. Hubungan
✅ Touchpoint bulan ke 4
1. Kedekatan
2. Ketertarikan dengan dunia
3. Pola perawatan
4. Tuntutan bayi
5. Keterlibatan ayah
✅ Touchpoint bulan ke 7
1. Kemampuan motorik
2. Pemberian makan
3. Tidur
4. Keberadaan benda
✅ Touchpoint bulan ke 9
1. Mobilitas
2. Referensi sosial
3. Keberadaan manusia
4. Kontrol
✅ Touchpoint bulan ke 12
1. Kemandirian
2. Kemampuan motorik
3. Pembelajaran
4. Sifat mudah marah
✅ Touchpoint bulan ke 15
1. Kemandirian
2. Permainan
3. Kemampuan motorik
4. Ketergantungan
5. Bahasa
✅ Touchpoint bulan ke 18
1. Kognitif
2. Kesadaran akan diri
3. Usaha untuk mengontrol
4. Bahasa
✅ Touchpoint tahun ke 2
1. Permainan imajinatif
2. Bahasa
3. Kemandirian
4. Kemampuan motorik
✅ Touchpoint tahun ke 3
1. Imajinasi
2. Ketakutan dan fobia
3. Bahasa
4. Hubungan dengan teman sebaya
5. Pemahaman sosial
Minggu, 02 Desember 2018
Nama adalah Doa
Nama adalah Doa
📝@ArtieTeja
Tidak ada orangtua yang memberikan nama buruk kepada anak-anaknya. Setiap orangtua selalu punya harapan indah disetiap makna nama buah hatinya.
Seperti halnya dalam memaknai Aqiqah yang merupakan sunnah Rasul, secara berurutan prosesi Aqiqah meliputi mencukur rambut, memberi nama, menyembelih kambing, dan makan bersama. Dalam hal ini point yang akan di bahas adalah menamai anak.
"Apalah arti sebuah nama", dalam pandangan agama nama berfungsi sebagai doa. Oleh karena itu berikan nama yang baik pada bayi yang baru lahir, berdasarkan hadist Rasulullah SAW, artinya: "Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama Bapak kalian, maka baguskanlah namamu" (HR. Muslim).
Kamis, 29 Maret 2018
Sabtu, 24 Maret 2018
Menumbuhkan Minat Baca Anak
📚 Menumbuhkan Minat Baca Anak
📝 @ArtieTeja
Memiliki anak senang membaca adalah dambaan orangtua. Membaca memberikan manfaat besar bagi anak, membaca menjadi kunci keberhasilan belajar anak di sekolah.
Kemampuan dan minta membaca yang tinggi adalah modal dasar untuk keberhasilan belajar anak. Membaca adalah pintu gerbang dalam meraih ilmu. Buku adalah sumber pengetahuan dan salah satu kunci keberhasilan.
Minat baca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak masih kecil sebab minat baca pada anak tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak.
Keluarga adalah lingkungan utama atau basic untuk anak. Orangtua sebagai teladan perlu menanamkan kesadaran pentingnya membaca melalui contoh nyata.
Tingkat perkembangan seseorang yang paling menguntungkan untuk pengembangan minat baca adalah pada masa peka yaitu sekitar usia 5-6tahun.
Untuk itu orangtua harus memiliki aturan di rumah dalam menumbuhkan kebiasaan membaca anak.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua dalam menumbuhkan minat baca anak, yaitu:
1. Menyediakan pojok baca yang berisi buku-buku kegemaran anak.
2. Membuat agenda untu rutin pergi ke toko buku dan memberikan kebebasan membaca dan memilih buku yang disukainya.
3. Memberikan reward atau penghargaan untuk menarik minat baca terkadang diperlukan untuk anak-anak yang sangat sulit membaca sebagai motivasi.
4. Memperbanyak kegiatan membaca bersama dalam keluarga.
5. Luangkan waktu untuk sekedar membacakan buku kegemaran anak menjelang tidur.
Lebih dari upaya tersebut adalah membiasakan anak membaca buku apa saja dan membawa buku kemana saja sehingga perkembangan anak akan kebutuhannya terhadap buku tumbuh dengan sendirinya.