Selasa, 17 Februari 2026

Merengkuh Rida-Nya Menggapai Bahagia


Merengkuh Rida-Nya Menggapai Bahagia

Oleh: Dhiarti Tejaningrum

Kehidupan begitu keras mengajarkanku untuk mampu menari dalam badai.Rasanya aku tak layak Bahagia. Perjalanan yang tidak mudah memang, terkadang lelah mengajakku menyerah. Masa kecil yang penuh liku membuatku tak tentu arah, tetapi ternyata apa yang aku pikirkan itu salah. Aku masih berdiri sampai hari ini dengan penuh daya. Jalan terjal berliku membuatku menjadi pribadi kuat. Hidup yang bagaikan roller coster bukanlah halangan untukku bahagia dalam rengkuhan rida-Nya. 

Setiap fase kehidupan adalah rahasia-Nya, kita tidak akan pernah tahu atas apa yang akan terjadi nanti. Satu yang harus kita yakini dalam bingkai keimanan terhadap takdir bahwa kebahagiaan adalah ketetapan-Nya yang melekat pada diri kita dan duka tak akan selamanya. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 286, yang artinya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Apa yang kita jalani adalah ketetapan-Nya, kita pasti bisa melewatinya karena semua sesuai dengan batas kemampuan kita. Dalam QS Al-Mulk ayat 2, yang artinya “Dialah yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji hamba siapa saja yang terbaik amalnya?” Awalnya ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan kita merasa hidup ini tak adil, tetapi hikmah dari ayat tersebut mengantarkanku pada satu titik dimana dalam kondisi apapun persiapkan saja amal terbaik. Mejalani kehidupan sebaik-baiknya dengan tetap memohon pertolongan-Nya. Kita sering merasa bahwa takdir-Nya tidak sesuai harapan kita, meskipun tidak semua yang kita benci itu buruk untuk kita. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah: 216, yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.” Setiap hal yang menyakitkan yang kita alami ternyata mengandung hikmah yang sangat besar. Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR. Muslim).

Untuk mencapai rida Allah SWT kita harus menerima takdir-Nya, “Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi). Kemampuan kita untuk bersyukur tumbuh dari adanya kesadaran diri untuk hadir sepenuhnya, menerima sepenuhnya takdir-Nya. Dimana kebanyakan orang tidak dapat menikmati hidup sepenuhnya karena selalu lari dari kenyataan, membiarkan masalah semakin rumit. 

Kadang kita menggangap hanya hal besar yang menjadi sumber kebahagiaan, bahkan kita mensyaratkan sesuatu untuk bahagia. Kesederhanaan hati yang dipenuhi iman akan membuat kita selalu merasa bahagia. Keteguhan iman dalam kebaikan adalah kebahagiaan. Salman Al-Farisi pernah berkata, “Di antara tanda kebahagiaan adalah selalu berbuat baik dan hadir di lingkungan yang baik. Di antara tanda kesengsaraan yaitu selalu berbuat buruk dan akrab dengan lingkungan yang buruk.”  

Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim: 7, yang artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Ketika kita mampu bersyukur, maka law of attraction akan mendatangkan orang-orang, situasi, kondisi, dan kejadian yang akan membuat kita bahagia. Penerimaan diri, menguatkan iman, dan mampu mensyukuri segalanya adalah proses menuju kebahagiaan. Terlalu fokus dengan masalah membuat kita lupa bahwa pertolongan-Nya sangat dekat. Kebahagiaan tanpa rida-Nya bukanlah bahagia yang hakiki. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar