Jumat, 16 Februari 2018

Hakikat Strategi Pembelajaran

📚Hakikat Strategi Pembelajaran📚
📝 @ArtieTeja

Strategi pembelajaran merupakan perencanaan yg berisi tentang rangkaian kegiatab yg didesain untuk mencapai tujuan pendidikan.

Strategi pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Tiga jenis strategi yg berkaitan dengan pembelajaran, yaitu:
🔸strategi pengorganisasian pembelajaran
🔸strategi penyampaian pembelajaran
🔸strategi pengelolaan pembelajaran.

Strategi itu tidak terlepas dari metode,  pendekatan, atau teknik dalam pembelajaran.

🔻Metode = upaya untuk mengimplementasikan rencana yg sudah disusun dlm kegiatan agar tujuan tercapai secara optimal.
🔻Pendekatan = sudut pandang thd proses pembelajaran.
🔻Teknik = cara yg dilakukan dalam rangka mengimplementasikan suatu metode.

Strategi dan metode pembelajaran yg digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan dalam pembelajaran. Contoh: pendekatan teacher centre akan menurunkan strategi direct instruction,  pembelajaran deduktif/ekspositori.

Selasa, 13 Februari 2018

Metaprogram Anak Dalam Belajar

📚Metaprogram Anak Dalam Belajar📚
📝@ArtieTeja

Metaprogram adalah serangkaian pola atau program yang menjadi sistem pola pikir bagi seseorang dalam berperilaku.

Dengan kata lain,  bagian dari program pikiran yang menentukan bagaimana anak dapat merespon sesuatu dalam konteks tertentu.

Metaprogram = context dependent (tidak semua orang akan merespon secara sama pada konteks yang sama).

Dalam ilmu psikologi,  metaprogram merupakan berbagai metode untuk melakukan profiling karena berusaha untuk mengklasifikasikan manusia ke dalam beberapa "tipe".

Dalam NLP,  metaprogram diklasifikasikab menjadi empat bagian besar yg kemudian dibagi lagi menjadi subklasifikasi,  yaitu:
1. Sikap (bagaimana seseorang menanggapi sesuatu).
2. Motivasi (setiap orang memiliki triger atau katalisator tertentu dalam motivasi).
3. Informasi (bagaimana seseorang mengelola dan mensortir suatu informasi untuk dijadikan pijakan bagi dirinya dalam melakukan hal tertentu).
4. Keyakinan (bagaimana seseorang diyakinkan).

Cari tahu metaprogram apa yg dimiliki anak sehingga bisa melatih pembelajaran berdasarkan metaprogramnya dan belajarpun menjadi optimal. Baik belajar maupun aktivitas lainnya.

Sabtu, 10 Februari 2018

Pendekatan Sekolah Waldorf

📌Pendekatan Sekolah Waldorf
📝@ArtieTeja

Pandangan Waldorf sekolah melaksanakan pendidikan dengan berusaha membantu anak agar anak memiliki kepercayaan diri,  kreativitas,  pengetahuan, dan keterampilan.

Kurikulum sekolah Waldorf didesain untuk mempertemukan antara tahapan perkembangan anak pada setiap aspek perkembangan, seperti intelektual,  emosional,  fisik,  dan spiritual tahapan perkembangan sendiri-sendiri. Mempertemukan berbagai perubahan dalam perkembangan yang terjadi secara alamiah sepanjang masa kanak-kanak. Guru menetapkan materi belajar dan cara mengajar yang berhubungan dengan tahapan perkembangan anak.

Dalam kata lain kurikulum sekolah Waldorf didesain untuk mempertemukan seorang anak dalam tingkat kesiapan untuk belajar dan memahami.

Waldorf memandang anak sebagai individu yang memiliki kepekaan spiritual, temperameb psikologis,  dan cara belajar yang bersifat individual.

Prinsip sekolah Waldorf adalah:
🔸Accept the children with reverence (terima anak-anak dengan penghormatan)
🔸Educate them with love (didik anak dengan cinta)
🔸Send them forth in freedom (beri kesempatan kepada anak-anak untuk meraih kemajuan dengan bebas)

Sekolah Waldorf memahami bahwa anak-anak usia dini belajar terutama melalui imitasi dan contoh.

Tujuan akhir pendidik Waldorf adalah membantu anak agar mampu menghubungkan antara kapasitas bawaan termasuk imitasi dan imaginasi anak dengan pengalaman pendidikan yang diperoleh dalam kehidupan nyata yang akan mereka jalani secara sungguh-sungguh.

Jumat, 09 Februari 2018

Talkshow: Penguatan Bahasa Cinta Untuk Generasi Islami

🏡 Aula STPI Bina Insan Mulia,  10/02/2018
📝 @ArtieTeja

💖*Penguatan Bahasa Cinta Untuk Generasi Islami*💖

📢 Nasum 1: *Dr. Umi Faizah, S. Ag., M. Pd.* (Ketua STPI Bina Insan Mulia)
🌷Bahasa Cinta🌷
👉Semua dimulai dari cinta.. Semuanya berasal dari cinta.
👉Cinta diterima sebagai sesuatu yang membahagiakan.
👉Gembira,  bahagia adalah bahasa emosi.  Maka ia ditularkan dan bukan dihafalkan.
👉Cinta itu akan menumbuhkan energi.
👉Sejak lahir bayi tampaknya terserap ke dalam bahasa. Analisis cermat terhadap sebuah rekaman film menunjukkan kalau bayi membuat gerakan tubuh yang sangat halus sebagai respon kepada ucapab dan gerakan mereka jadi beragam sesuau ikatan suara dan kata-kata (Condon & Sender).
👉 Biasakan mengajak anak dialog semenjak dalam kandungan.

🍂Pd tahun 1992 ada hasil penelitian Mr. 👇Masaru Emoto (Jepang) yang meneliti air. Secara umum,  air bersih yang sehat membentuk kristal indah menciptakan geometri,  sementara air tercemar terlalu sulit untuk membentuk kristal.
👇Berkenaan dengan struktur molekul air,  niat kita (pikiran),  kata-kata,  ide dan tekanan suara memiliki efek yang mendalaman di atas air.  Biar efek penyembuhan maupun merusak.
👇Manusia 70% air,  hal ini berati bahwa apa yang kita pikirkan menciptakan realitas kita,  bukan hanya secara emosional tetapi fisik.

⏩Bagaimana perumpamaan kalimat yang baik?  (QS.  Ibrahim: 24-25)
Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik,  seperti pohon yang baik. Akarnya kuat menghujam,  cabangnya menjulang ke langit,  dan pohon itu akan memberikan buah setiap saat

⏩Perumpamaan bahasa yang buruk (QS Ibrahim: 25)

Perkataan adalah doa,  perkataan yang baik seperti pohon yang baik.

☀4 hal ajaib: menunjukkan kasih sayang,  meminta maaf,  memuji,  dan berterima kasih.

Mendidik itu tidak mendadak. Membutuhkan bekal dan proses panjang.  Ada keteladanan,  kesabaran,  kasih sayang,  dan konsistensi.

🍃Penguatan bahasa cinta, membutuhkan 4 manajemen,  yaitu:
1. Manajemen hati
2. Manajemen pikir
🔸Pikiran mempengaruhi ucapan dan ucapan mempengaruhi tindakan.
3. Manajemen tindakan
🔸Tindakan mempengaruhi karakter.
🔸Hukun kekekalan energi (kubik leadership)
Hasil = HUT + TE
HUT = hasil usaha tunai
TE = tabungan energi
4. Manajemen lisan
🔸Pilihan kata-kata yang anda pilih mempengaruhi suasana pikiran,  perasaan,  dan tindakan orang lain maupun diri anda sendiri.
🔸Gunakan komunikasi efektif,  mekanismenya adalah: mengubah kalimat "dari pada...... lebih baik".

Cinta bukan paksaan,  ia lahir dari perasaan.  Kehadirannya tidak diundang,  perginya tiada yang merelakan. Cinta bukan melemahkan semangat tapi membangkitkan semangat.

📢 Nasum 2: *Siti Nurhidayah, S. Psi., M. Si.* (Dosen PG Paud UMM)

Membangun Komunikasi Suportif Ortu-Anak

🌿Kunci sukses kita bisa berkomunikasi dengan orang lain adalah bahasa qolbu.
🌿Sesuatu yang tidak di ucapkan lewat lisan akan lebih mengena jika terucap dari hati (bahasa qolbu).

👉Bahasa qolbu = bahasa cinta.

🌀5 kunci sukses komunikasi suportif:
1. Deskripsikan masalahnya
2. Fokus masalahnya (orientasi masalah)
3. Jujur
4. Empati
5. Demokrasi

🔰Komunikasi suportif ortu-anak merupakan sebuah gaya berkomunikasi antara ortu-anak yang saling memberikan pesan secara akurat dan saling memberikan dukungan serta meningkatkan hubungan antara ortu dan anak dalam hal berkomunikasi.

Cara komunikasi:
♦Verbal = 20%
memakai kata-kata untuk di ungkapkan secara langsung atau lewat tulisan.
♦Non-verbal = 80%
memakai bahasa isyarat,  ekspresi wajah/mikro ekspresi,  sentuhan,  dan bahasa tubuh.

⏩Penyebab kegagalan berkomunikasi ortu-anak:
1. Keterbatasan waktu dan terpola srcara terburu-buru cara berkomunikasi ortu dan anak.
2. Ortu tidak mengenali diri sendiri dan kurang memahami karakter sang anak.
3. Ortu tidak paham akan kebutuhan dan keinginan mereka.
4. Ortu belum menyadari bahwa setiap anak memiliki kepribadian yang unik sehingga banyak ortu yang kurang sabar.
5. Ortu belum terampil membaca bahasa tubuh anak.
6. Ortu senang memakai gaya populer dalam. menghadapi masalah anak.
7. Tidak memiliah dan memisahkan masalah siala.
8. Pendengar yang pasif.
9. Sering menyampaikan pesan yang tanggung,  maksudnya tidak tuntas sampai anak mengerti.

⏩Pahami solusi mengatasi kegagalan berkomunikasi ortu-anak:
1. Mengatur waktu sebaik mungkin,  tidak tergesa-gesa dalam mendidik anak.
2. Belajar mengenli diri dan kawan bicara dengan baik,  pahami bahwa setiap diri anak itu unik.
3. Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan itu berbeda,  apalagi pada usia tiap anak yang berbeda-beda.
4. Belajar memahami bahasa tubuh anak. 5. Jadilah pendengar yang aktif.
6. Jangan biarkan anak. merasa tidak percaya diri,  mendoktrin anak,  pilah setiap masalah anak,  ortu,  atau masalah bersama.
7. Jadi teladan anak.

🔥Hindari 12 gaya populer dalam berkomunikasi dengan anak,  yaitu: memerintah,  membandingkan,  menyalahkan,  meremehkan,  mencap,  mengancam,  menasihati dengan ceramah,  membohongi,  menghibur,  mengkritik,  menyindir,  dan menganalisa.

⏩Mendeskripsikan dengan jelas dalam berkomunikasi,  yaitu:
a.  Hindari kata sifat dan gunakan kata kerja.
b.  Gunakan pernyataan yang spesifik dan konkret.
c.  Gunakan kosakata "pesan saya".

🌼Bahasa hati dan pikiran sangat mempengaruhi bahasa tulisan.
🌼Biasakan menggunakan senergi positif, komunikasi yang positif untuk. menghasilkan generasi positif.
🌼Gaya komunikasi ortu akan mempengaruhi gaya komunikasi anak.
🌼Kemampuan komunikasi ortu akan mempengaruhi peningkatan kecerdasan anak.

Senin, 22 Januari 2018

Bagaimana Menjadi Orangtua Yang Bijak Dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak

📢 Dr. Hamidah Binti Sulaiman
(Faculty of Educatio, University of Malaya)
📝 @ArtieTeja-STPI Bina Insan Mulia
🏡 Public Lecture  FTIK UIN Sunan Kalijaga

"Bagaimana Menjadi Orang Tua Yang Bijak Dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak"

🔸Teknologi merubah segalanya, mempengaruhi kehidupan. Dunia menjadi sempit.
🔸Anak-anak lebih pintar menggunakan smartphone.
🔸Sebelum anak-anak kecanduan hp, orangtua punya peran penting. Orangtua adalah pendidik utama.

🍃Baumrind (1991), teori mendidik/mengasuh anak:
1. *Authorritative*
Anak-anak boleh membuat pilihan dengan panduan orangtua.
2. *Authorritarian*
Keputusan semua ada pada orangtua.
3. *Permisive*
Gaya asuhan orangtua menyerahkan semua kepada anak,  bebas melakukan apapun.

🌸Penelitian mengatakan pola asuh authorritative membuat anak lebih cerdas.
🌸Ketiga pola asuh bisa dilakukan disesuaikan dengan usia anak.

🍂Metode Rasulullah medidik anak:
*0-6th*
Perlakukan anak sebagai raja,  ajak bermain bersama.
*7-14th*
Orangtua sebagai guru dan anak sebagai murid. Penuh dengan bimbingan/petunjuk.
*15-21th*
Perlakukan anak sebagai sahabat. Menurut Eric Ericson, masuk tahap ke 5 yaitu remaja mencari jati diri.

*QS.  Lukman: 13*
".......dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya,  semasa dia memberi nasihat kepadanya...... wahai anak ku"

Mendidik menggunakan bahasa yang lemah lembut.

💧Strategi sebagai pondasi hidup sesuai QS. Lukman,  yaitu:
🌀*Aqidah (Faith)*
antara nasihat dan sikap baik yang dilakukan Lukman ialah mengajar anaknya membentuk hubungan dengan Allah, larang syirik kepada Allah,  kepercayaan kepada gari akhirat.
🌀*Ibadah (worship)*
Pendidikan anak menekankan anak-anak mendirikan shalat dan membuat ma'ruf serta menininggalkan yang mungkar.
🌀*Amal Ma'ruf Nahi Munkar (inviting goodness)*
Ajarkan anak-anak untuk beramal ma'ruf dan meninggalkan yang munkar
🌀*Menghormati Orangtua (respecting the parents)*
Anak-anak bertanggung jawab untuk berbakti terhadap kedua Ibu Bapak,  taat kepada perintah keduanya selagi tidak bercanggah dengan perintah Allah SWT.
🌀*Menjauhi Kesombongan (be humble,  polite,  dan unpretentious)*
- Lukman menasihati anaknya agar menjauhi sifat sombong dan takabur,  anak-anaknya perlu dibimbing tingkah laku dan sifat ego mereka agar mereka memiliki pribadi yang mulia.
- Sifat sombong tidak hanya dari perkataan saja,  sifat sombong lainnya yaitu: memalingkan muka ketika bertemu sesama,  memuji diri sendiri,  berjalan dengan angkuh dan gaya yang angkuh serta menghina orang lain.
🌀*Sederhana dalam Bergaul dan Bersikap*
- Mengutamakan sifat kesederhanaan dalam jiwa anak-anak,  khususnya yang berkaitan hub antara sesama insan.
- Sederhana dalam berjalan dan merendahkan nada suara dalam berkata-kata.
- Mendidik anak-anak dalam suasana kasih sayang dan kemesraan.

👾 The definition of Emotional Intelligence:
- Kecerdasan emosi didefinisikan sebagai sejenis kecerdasan sosial yang bertanggungjawab untuk mengawal pelbagai emosi,  mendiskripsikan emosi tersebut dan menggunakan maklumat untuk mengawal pemikiran dan tindakan.
- Kecerdasan emosi juga merupakan kombinasi antara kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal.

➡ Tokoh Islam pelopor kecerdasan emosional adalah *Ibnu Qaldun*

🔋The emotional intelligence could be invided into:
🔸Intrapersonal scale: (1) self regard,  (2) emotional self awareness,  (3) assertiveness,  (4) independence, (5) self actualization.
🔸Interpersonal scale: (1) emphaty,  (2) social responsibility,  (3) interpersonal relationship.

💡Kecerdasan emosi akan terus berkembang sampai akhir hayat. Hubungan antara otak dan hati.
💡Kecerdasan emosi sangat berpengaruh dalam kehidupan.
💡Kecerdasan emosi didefinisikan sebagai sejenis kecerdasan sosial yang bertanggungjawab untuk mengawal pelbagai emosi,  mendiskripsikan emosi.

🌷Meningkatkan kecerdasan emosi: belaian kasih sayang, bonding,  attachement.
🌷Pepatah Malaysia: Tangan yang menggoncang buai, kelak anak yang dalam buaian akan menggoncang dunia.

Sabtu, 13 Januari 2018

Mengajarkan Digital Literacy pada Anak

📢 Ganjar Widhiyoga, Ph. D
📝 @ArtieTeja
🏡 Seminar Nasional by STPI Bina Insan Mulia, 14012018

Mengajarkan Digital Literacy pada Anak

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat membuat proses produksi alat-alat elektronik yang kita kenal sebagai *"gawai" (gadged)*.  Bahkan mempengaruhi pola interaksi dalam pendidikan,  keluarga,  sosial,  dan khususnya pada kehidupan anak. 

Kita perlu mempertanyakab bagaimaba mendidik anak-anak untuk lebih bertanggung jawab dalam menggunakan gawainya.

Pendidikan sangat penting karena gawau tidak hanya membawa manfaat positif melainkan juga membawa imbas negatif pada anak-anak.

Bagaimana mengajarkab pola penggunaan gawai yang aman pada anak-anak,  yang kita kenal dengan istilah *digital literacy*.

Digital literacy adalah kemampuan untuk menggunakab informasi dan teknologi komunikasi untuk mencari,  mengevaluasi,  menciptakab,  dan menyampaikan informasi yang kesemuanya ini meliputi kemampuan kognitif dan teknis.

Tiga kategori digital literacy,  yaitu (Spires dan Bartlett):
1. Kemampuan untuk menemukan dan mengkomsumsi konten digital.
2. Menciptakan konten digital.
3. Mengkomunikasikan konten digital.

Untuk melaksanakan ketiga hal tersebut,  seseorang harus memiliki kemampuab untuk memilih dan memilah informasi, mengingat perkembangan informasi di dunia maya sangat cepat dengab berbagai jenis sumber informasu yang patut dikaji tingkat kesahihannya.

Konsep digital literacy dapat dikenalkan dengan konsep *DQ (Digital Quotient)* atau kecerdasan digital (Yuhyun Park,  doseb Nanyang Technological University).

DQ adalah kemampuan untuk mengambil informasi, mengolah,  dan menciptakan konten baru.

Sebelum anak dapat menciptakan konten baru dan berkontribusi dalam dunia digital,  para orangtua dan guru harus mengajarkan terlebih dahulu tata krana dalam dunia digital,  yang disebut dengan *digital citizenship*.

Park menyampaikab ada 8 tata krama dalan dunia digital yang harus dipahami setiap anak,  yaitu:
1. *Digital Citizen Identity*
orangtua dan guru harus mengajarkan pada anak untuk membangun identitas digital yang sehat,  teritegrasi antara identitas luring (offline)  dan daring (online).
2. *Privacy Management*
anak-anak harus diajari untuk selektif dalan menjalin koneksi,  untuk waspada pada profile asing untuk menjaga apa yang mereka kirim tidak mengancan keamanan mereka.
3. *Critical Thinking*
anak harus diajari untuk membedakan informasi yang nyata dan palsu,  konten yang amab dan berbahaya,  dan harus dilatih membedakan kontak/akun yang dapat dipercaya dan yang harus diwaspadai.
4. *Digital Footprints*/rekam jejak digital
anak harus memahami bahwa apa yang mereka kirim ke dunia digital akan terus bertahan di sana,  ada rekam jejak digital yang tidak dapat dihapus,  bahkan akan terus menyebar.
5. *Digital Empathy*
Ketidakmampuan berempati akan dapat berujung pada *cyber bullying* atau lebih parah lagi.
6. *Cyber Security Management*
anak-anak perlu belajar bagaimana membuat kata sandi yang aman,  tidak melakukan transaksi daring dengan CC keluarga,  dan perlu belajar bagaimana menjaga perangkat keras (komputer,  laptop,  hp,  tablet,  dll)  dari serangan virus. 
7. *Cyber Bullying Management*
anak-anak harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi cyber bullying dan paham apa yang harus mereka lakukan ketika menyaksikan atau ketika menjadi korban cyber bullying.
8. *Screen Time Management*
segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,  demikian pula dengan aktivitas berlebihan di dunia maya.  Anak-anak harus dididil untul mampu membatasi diri,  menghentikan aktivitas daring mereka dan beraktivitas di dunia maya. Kemampuan ini yanh menjadi kunci pengaman anak-anak sehingga tidak kecanduan dunia maya,  baik dalam bentuk kecanduan game,  kecanduan ber-sosmed ataupun bentuk-bentuk kecanduan lain.

Bayi sampai balita berusia 2 tahub tidak boleh terpapar oleh gawai dan aktivitas digital.

Menurut AAP,  pada usia 3-5 tahun,  balita akan mendapatkan manfaat dari konten digital jika ada orang dewasa yang mendampingi dan menjelaskab kembali isi konten digital itu pada sang bayi.

Imbas negatif pada bayi dan balita seperti penurunan kualitas tidur bayi dan balita, kecenderungan mengalami obesitas dan pengaruh buruk pada perilaku bayi dan balita.

Selain masalah kesehatan,  gawai juga mengenalkan bahaya lain pada anak-anak dan remaja,  mengakibatkan kehilangan minat untuk berinteraksi di dunia nyata,  membuat mereka tidak mampu mengembangkan kemamphan interpersonal dan bahkan menarik diri dari dunia nyata (*withdrawal symptomps*).

Hasil penelitian menyatakan bahwa orang-orang yang konsumtif dalam perilaku sosial media mereka lebih rentan terhadap depresi dibandingkan dengan orang-orang yang kreatif dan mampu membuat konten sendiri.

Penguasaan digital literacy akan membantu perkembangan minat baca dengan menyediakan konten yang sangat kaya bagi perkembangan pengetahuan anak-anak.

Rabu, 10 Januari 2018

Fitrah Seksualitas

FITRAH SEKSUALITAS
By: Ust. Harry Santosa

Punya suami yang kasar? Kaku?  Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.

Punya suami yang "sangat tergantung" pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.

Kok sebegitunya?

Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.

Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.

Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka,  bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda  sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.

Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.

Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.

Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrahdanakhlak
#pendidikananakdalamkeluargaislam
#positiveparenting
#motivasiparenting