Minggu, 29 Oktober 2017

Belajar dari Sistem Pendidikan di Finlandia

🍃Belajar dari Sistem Pendidikan di Finlandia🍃
📝@ArtieTeja-MotiVaMoms

Bagaimana pendidikan di Finlandia bisa menjadi maju dan berkembang?  Ada 5 unsur penting yang membuat siswa di Finlandia lebih baik, yaitu 4 diantaranya berkaitan langsung dengan sekolah (amanat yang diembannya)  dan 1 adalah tentang apa yang dilakukan anak-anak ketika tidak di sekolah.

1. Sekolah harus menyediakan pendidikan dan perkembangan yang seimbang,  menyeluruh,  dan berorientasi pada anak,  serta meletakkan suatu fondasi pembelajaran yang baik dan pantas.
🔸Kurikulum di sekolah Finlandia memberi porsi yang sama rata untuk semua mata pelajaran sehingga memberikan kesempatan bagi semua anak untuk mengolah berbagai aspek kepribadian dan bakat siswa (inklusivitas). 
🔸Setiap orang dapat belajar apapun yang diinginkannya selama ada dukungan yang layak dan cukup. 
🔸Fokus terhadap kesejahteraan, kesehatab,  dan kebahagiaan siswa menjadi salah satu tujuan utama bersekolah di seluruh penjuru Finlandia.

2. Pendidik (Guru)  mendapatkan pelatihan khusus dan berjenjang pendidikan tinggi jurusan kependidikan.
🔸Para guru diwajibkan mempelajari psikologi anak,  pendagogi,  pendidikan khusus,  mata pelajaran didaktik,  dan kurikulum yang lebih banyak daripada fakultas/jurusan lain.
🔸Para guru diharapkan untuk secara kolektif merancang kurikulum sekolah mereka,  memilih cara yang paling efektif untuk mengajar,  menilai seberapa baik anak didik mereka dalam belajar,  dan mengarahkan pengembangan serta pertumbuhan profesi mereka sebagai guru secara mandiri.

3. Mengembangkan mekanisme yang permanen demi mengamankan dan meningkatkab kesejahteraab dan kesehatan siswa di semua sekolah.
🔸Memastikan bahwa kurangnya kesehatan dan kesejahteraab yang mendasar di rumah tidak menghalangi kesempatan anak didik untuk menjadi berhasil.
🔸Setiap sekolah harus membentuk suatu Tim Kesejahteraan Siswa beranggotakan para ahli,  guru,  dan pemimpin yang membahas masalah-masalah yang menjadi perhatian utama dan memutuskan penyelesaiannya dengan cara terbaik yang mungkin dilakukan.

4. Kepala sekolah haruslah pendidik yang berpengalaman dan berkualitas.
🔸Kepala sekolah memiliki kualitas untuk mengajar di sekolah yang dipimpinnya.
🔸Pemimpin di sekolah juga harus cocok dan pas untuk memimpin orang-orang dan organisasi belajar mengajar yang berada di bawahnya.
🔸Para pemimpin adalah para guru dan para guru adalah para pemimpin (pendagogis).

5. Berikan kegiatan positif untuk anak-anak di luar jam sekolah. Belajar berorganisasi/sosial.
🔸90% orang muda Finlandia melaporkan bahwa setidaknya mereka memiliki satu hobi di luar sekolah.
🔸Faktor pendukung kerja sekolah dalam menolong semua anak didik menjadi sukses adalah pengembangan dan pemeliharaan anak di usia dini yang universal,  penanganan kesehatan publik,  dan sisten perpustakaan umum yang tersebar luas.

(📚Sahlberg dalam pengantar buku "Teach Like Finland")

Pendekatan Finlandia yang lebih lunak seperti hari sekolah yang pendek,  beban pekerjaan yang ringan,  dan sedikitnya tes dengan standar tertentu telah mematahkan pandangan tradisional tentang bagaimana mendapat hasil belajar yang luar biasa.

Guru di Finlandia menghargai kebahagiaan di atas pencapaian.  Mereka mengambil keputusan yang kecil,  sederhana untuk memperomosikan proses belajar dan mengajar yang menyenangkan.

Faktor kebahagiaan "suatu keadaan emosi posifit" sangat mempengaruhi bagaimana siswa belajar di dalam kelas,  mampu mendukung tujuan pembelajaran.

Minggu, 01 Oktober 2017

Menanamkan Tauhid Sejak Dini

🌟Mananamkan Tauhid Sejak Dini🌟
@ArtieTeja-MotiVaMoms

🔐Pendidikan anak (tarbiyatul aulad)  bukanlah dimulai dari semenjak kandungan,  sejatinya ia dimulai semenjak kita mencari pasangan hidup (suami/istri).

🔑Tauhid merupakan pondasi paling penting di dunia pendidikan Islam. Bagaimana ketauhidan kita sebagai orangtua akan menjadi teladan untuk pendidikan tauhid kepada anak-anak kita.

♥Salah satu pondasi pendidikan tauhid dimulai dari penanaman nilai-nilai tauhid kepada anak,  dan salah satu kunci keberhasilan pendidikan anak adalah tepatnya metode yang diberikan saat mengenalkan sang anak kepada penciptanya,  Allah Ta'ala.

♦Masa golden age merupakan fase dasar untuk membentuk anak.  Pendidikan dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak, sebab keluarga merupakan wahana yang pertama untuk seorang anak dalam. memperoleh keyakinan agama,  nilai,  moral,  pengetahuan dan keterampilan yang dapat dijadikan patokan bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungan.

🔓Rasulullah SAW memberikan contoh penanaman tauhid yang kokoh ketika beliau mengajari anak paman beliau,  Abdullah bin Abbas ketika berboncengan,  beliau berkata kepada Abbas: "Wahai anak,  aku mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah,  niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu.  Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah".

🔓Teladan lain dalam Al-Qur'an adalah Luqman,  beliau mengajarkan anaknya agar tidak menyekutukan Allah, agar anaknya menyembah Allah semata dan berbakti kepada kedua orangtua (QS.  Lukman:3 & QS.  Al-Israa':23).

Sudahkah kita ingatkan dan berikan teladan kepada anak-anak kita tentang pendidikan tauhid❓

Rabu, 27 September 2017

Menjadi Pendidik Yang Militan

📢 Ust. Ransi Al Indragiri
🏡 STPI Bina Insan Mulia, 27/10/2017
📝 @ArtieTeja

🍃Menjadi Guru/Pendidik Yang Militan🍃

Mengajar tidak harus dengan metode ceramah, bisa dengan metode tanya jawab,  dll.

Militan = kokoh,  teguh,  istiqomah, rendah hati,  tidak mudah menyerah.

👉QS.Al-Imron: 110
Setiap umat nabi Muhammad SAW tugasnya sama dengan nabi yaitu mengajar pada yang makruf dan mencegah pada yang munkar.

👉Guru di bagi menjadi 3 kelompok:
1. Guru melalui lisan/kata-kata
2. Guru melalui tulisan (buku/tulisan tidak lekang oleh zaman)
3. Guru  melalui perbuatan (teladan)

♦Guru yang militan adalah guru yang lisan,  tulisan,  dan perbuatan seiring/sama.
♦Kita semua adalah guru.
♦Apa yang kita tanam hari ini adalah apa yang kita peroleh esok hari.
♦Siapkan diri menjadi guru yang hebat dan benar sesuai ajaran Islam yaitu sesuai dengan dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah selalu belajar,  belajar,  dan belajar.. mengajar,  mengajar,  dan mengajar.

Rasulullah tidak pernah gengsi meski harus belajar dengan orang yang lebih muda,  seperti waktu Perang Khandaq beliau menerima pendapat Salman Al Farisi yang lebih muda dari Beliau tentang lokasi basecamp.

👇Seberapa militan Rasulullah dalam mengajar:
1. Beliau mengorbankan waktu sepenuhnya untuk orang yang membutuhkan pembelajaran (totalitas waktu).
2. Disiplin waktu,  tanpa lupa berdoa setiap melakukan dan menyudahi melakukan segala sesuatu.
3. Rela berkorban (waktu dan materi/harta), Beliau tidak pernah menghitung-hitung atas apa yang beliau keluarkan.
4. Kreatif dan inovatif,  mampu memunculkan ide-ide yang membangun. Rasulullah menggunakan segala metode pembelajaran dan Rasulullah mampu melihat kondisi.
5. Istiqomah (terus menerus dan tidak putus asa).
6. Sabar, Rasulullah mengajar tidak pernah dengan kekerasan. Ciri-ciri sabar, yaitu: (a) Jiwanya tidak resah/jiwanya tenang, (b) Lisannya tidak mudah berkeluh kesah, dan (c) Raga tidak mudah kacau.
7. Do'a, segala yang kita lakukan tidak terlepas dari do'a.

Imam Malik adalah guru Imam Syafi'i, untuk terlaksananya proses pembelajaran beliau sampai menjual kayu rumahnya.

🔸Ibnu Abbas: "karomah anak cucu Adam adalah istiqomah".
🔸Imam Syafi'i: "karomah paling hebat adalah istiqomah".

💙Kesuksesan/kebaikan dunia dan akhirat adalah faqih dalam ilmu agama.
💖Anda tidak akan rugi menjadi militan,  tidak akan miskin menjadi militan justru hidup akan di mudahkan dengan militan.

🔰Ada tempat dimana kita lembut,  ada tempat dimana kita tegas.
Tegas itu bukan marah.
🔰Guru sehebat apapun ketika pendidikan orangtua tidak hebat maka anak tidak akan hebat.
🔰Sekolah ingin sukses mau tidak mau orangtua harus dilibatkan.

Senin, 25 September 2017

Cara Cerdas Menghukum Anak

```CARA CERDAS MENGHUKUM ANAK```

*Oleh: Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa'*
_*(Pakar Parenting dari Kuwait)*_

Seorang ibu berkata: _"Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 6 tahun dan yang kedua 9 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman (iqob) tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?"_

Saya berkata: _"Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?"_

Ibu tersebut menjawab: _"Saya tidak  paham, bagaimana itu?"_

Saya jawab: _"Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan  berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif."_

Sebelum menerapkan metode ini, kita harus memastikan, *_apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja)?_*
Jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.

Tetapi *_jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja_*, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya : _tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan (balas dendam) dan jangan memukul._

Kita juga bisa menggunakan *Metode Memilih Hukuman*.

Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari.
Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.

Ketika tiga hukuman yang dipilih anak tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.

Ibu ini menyela: _"Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!"_

Saya katakan: _"Kita harus membedakan antara *ta'dib* (mendidik) dengan *ta'dzib* (menyiksa)!"_

Tujuan _ta'dib_ adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran, pengawasan _(mutaba'ah)_, dialog dan nasehat yang terus-menerus.

Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini _ta'dzib_ bukan _ta'dib_; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.

Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu. Sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan _(ta'dib)_ untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.

Si Ibu berkata: _"Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba."_

Saya bilang: _"Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya"._

Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya, maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga ikatan cinta orang tua dengan anak.

Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.

Siapa yang merenungkan metode _ta'dib_ Rasululllah _shallahu 'alaihi wa sallam_ terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta'dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.

Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: _"Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk Madinah, niscaya mencukupi"._

Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses _ta'dib_.

Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah  sebulan.
Dia bertutur: _"Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?"_

Saya jawab: "Saya ambil dari metode Al-Qur'an dalam mendidik _(ta'dib)_.
Allah _subhanahu wata'ala_ memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah".

Ibu berkata: _"Jadi ini metode pendidikan Al-Qur'an?"_

Saya jawab: _"Betul, sesungguhnya Al-Qur'an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya 'metode memilih hukuman' yang telah dijelaskan"._

Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.

Diterjemahkan oleh:
*Ust. Achmad Fadhail Husni, Lc*
Pusat Peradaban ISLAM

*(versi bahasa arab)*

*أسلوب ذكي في معاقبة الأبناء*

أسلوب ذكي لمعاقبة الأبناء ؟
قالت: عندي ولدين الأول عمره ست سنوات والثاني تسع سنوات وقد مللت من كثرة معاقبتهما ولم أجد فائدة من العقاب، فماذا أفعل ؟
قلت لها: هل جربت (أسلوب الاختيار بالعقوبة) ؟
قالت: لا أعرف هذا الأسلوب فماذا تقصد ؟
قلت: قبل أن أشرح لك فكرته هناك قاعدة مهمة في تقويم سلوك الأبناء لا بد أن نتفق عليها وهي أن كل مرحلة عمرية لها معاناتها في التأديب وكلما كبر الطفل احتجنا لأساليب مختلفة في التعامل معه ولكن ستجدين أن (أسلوب الاختيار بالعقوبة) يصلح لجميع الأعمار ونتائجه إيجابية، وقبل أن نعمل بهذا الأسلوب لابد أن نتأكد هل كان الطفل جاهلا أم متعمدا لارتكاب الخطأ ليكون التأديب نافعا ، فلو كان جاهلا أو ارتكب خطأ غير متعمد ففي هذه الحالة لا داعي للتأديب والعقوبة وإنما يكفي أن ننبهه على خطئه ، أما لو كرر الخطأ أو ارتكب خطأ متعمدا ففي هذه الحالة يمكننا أن نؤدبه بأساليب كثيرة منها الحرمان من الامتيازات أو الغضب عليه من غير انتقام أو تشفٍّ أو ضرب، كما يمكننا استخدام (أسلوب الاختيار بالعقوبة ).
وفكرة هذا الأسلوب أن نطلب منه الجلوس بمفرده فيفكر في ثلاث عقوبات يقترحها علينا مثل (الحرمان من المصروف أو عدم زيارة صديقه هذا الأسبوع أو أخذ الهاتف منه لمدة يوم) ونحن نختار واحدة منها لينفذها على نفسه وفي حالة اختيار ثلاث عقوبات لا تناسب الوالدين مثل ) يذهب للنوم أو يصمت لمدة ساعة أو يرتب غرفته ) ففي هذه الحالة نطلب منه اقتراح ثلاث عقوبات غيرها.
قالت معترضة: ولكن قد تكون العقوبات التي يقترحها لا تشفي غليلي!
قلت لها: علينا أن نفرّق بين التأديب والتعذيب! فالهدف من التأديب هو تقويم السلوك وهذا يحتاج إلى صبر ومتابعة وحوار واستمرار في التوجيه، أما أن نصرخ في وجهه أو أن نضربه ضربا شديدا فهذا (تعذيب لا تأديب) ، إننا عندما نعاقب أبناءنا فإننا لا نعاقبهم بمستوى الخطأ الذي ارتكبوه وإنما نزيد عليهم في العقوبة لأنها ممزوجة بالغضب، وذلك بسبب كثرة الضغوط علينا فيكون أبناؤنا ضحية توترنا وعصبيتنا من الحياة، ولهذا نحن نندم بعد عقابهم على تعجلنا أو عدم ضبط أعصابنا.
ثم قلت للسائلة: وأضيف أمراً مهماً وهو أنك عندما تقولين لابنك اذهب واجلس بمفردك، وفكر بثلاث عقوبات لأختار أنا واحدة منها لأنفذها عليك فإن هذا الموقف هو تأديب في حد ذاته لأن فيه حوارا نفسيا بين المخطئ وهو الطفل وذاته، وهذا تصرف جيد لتقويم السلوك ومراجعة الخطأ الذي ارتكبه.
قالت: والله فكرة ذكية سأجربها.
قلت لها: أنا جربتها شخصيا ونفعت معي وأعرف الكثير من الأسر جربوها ونفعت معهم لأن الطفل عندما يختار العقوبة وينفذها فإننا في هذه الحالة نجعل المعركة بين الطفل والخطأ وليس بينه وبين الوالدين فنكون قد حافظنا على رابطة المحبة الوالدية، وكذلك نكون قد احترمنا شخصيته وحافظنا على إنسانيته فلم نحقره أو نستصغره، ومن يتأمل تأديب الرسول الكريم للمخطئين يجد أنه مع التأديب يحترمهم ويقدرهم ولا يقبل بإهانتهم، وهذا نجده في قصة المرأة الغامدية التي زنت وطُبق عليها الحد، فشتمها أحد الصحابة فقال له رسول الله: إنها تابت توبة لو وزعت على أهل المدينة لوسعتهم.
فنظرة الاحترام للمخطئ باقية طالما أنه سار في برنامج التأديب.
ثم ذهبت السائلة ورجعت بعد شهر، فقالت لي: لقد نجح الأسلوب مع أبنائي وصارت عصبيتي معهم قليلة، وهم صاروا يختارون العقوبة وينفذونها، فأشكرك على هذه الفكرة، ولكن أريد أن أسألك كيف فكرت بهذه الطريقة التأديبية الرائعة؟
فقلت: لقد استفدت من الأسلوب القرآني في التأديب، فالله تعالى يعطي المذنب أو المخطئ ثلاث خيارات مثل كفارة من جامع زوجته في نهار رمضان أو كفارة اليمين وغيرها من الكفارات، فإن الشريعة الإسلامية تعطي ثلاث خيارات لمرتكب الخطأ، وهذا أسلوب تأديبي راقٍ وجميلٌ.
فقالت: إذن هو أسلوب قرآني تربوي!
قلت لها: نعم إن القرآن والسنة فيهما أساليب تربوية عظيمة في تقويم السلوك البشري للصغار والكبار لأن الله هو خالق النفوس وهو أعلم بما يصلحها وأساليب التأديب كثيرة ومنها (أسلوب الاختيار بالعقوبة) الذي شرحناه لك فانصرفت وهي سعيدة في تقويم أبنائها وزيادة المحبة في بيتها.9

Senin, 18 September 2017

Sinergi Orangtua dan Guru

🍃Sinergi Orangtua dan Guru🍃
📝 @ArtieTeja-MotiVaMoms

Setiap anak memiliki potensi untuk terbangunnya akhlak mulia dalam dirinya.  Tinggal bagaimana lingkungan mampu mendukungnya.  Membentengi anak dari pengaruh negatif lingkungan adalah dengan membangun akhlak mulia.

Faktor lingkungan punya peran yang sangat penting terhadap perubahan perilaku anak.

Tiga pilar pendidikan dapat dikategorikan sebagai faktor lingkungan yang berpengaruh dalam perubahan perilaku anak,  yaitu:
1. Lingkungan keluarga sebagai pendidik utama dan pertama
2. Lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang dirancang untuk mengarahkan terbangunnya perilaku
3. Lingkungan masyarakat,  lingkungan di luar keluarga dan sekolah.

Perilaku anak adalah hasil dari proses terbangunnya karakter yang sangat ditentukan oleh faktor lingkungan dan sekolah  (lembaga pendidikan yang tugas utamanya adalah membentuk akhlak mulia).

Pembentukan akhlak mulia melalui rekayasa lingkungan sekolah dilakukan melalui strategi: keteladanan,  intervensi,  pembiasaan yang dilakukan secara konsisten,  dan penguatan.

Perkembangan dan pembentukan akhlak mulia memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan,  intervensi melalui proses pembelajaran/pelatihan,  pembiasaan terus menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan dengan keyakinan.

Selain lingkungan sekolah,  lingkungan keluarga lebih tidak di sangsikan lagi. Keluarga adalah lingkungan terdekat dengan anak, maka kita lebih mempercayakan kepada kedua orangtua karena mereka pemegang kendali utama pembentukan prilaku anak. Dengan strateginya untuk membangun akhlak mulia.

Sedangkan lingkungan masyarakat adalah lingkungan di luar kendali orangtua dan guru dimana anak akan mendapatkan pengaruh baik positif maupun negatif.  Nah fungsi orangtua dan sekolah (pemegang amanah)  hanya bisa memberi arah agar anak mendapatkan pendidikan positif dari lingkungan masyarakat.

Di sinilah pentingnya sinergi antara orangtua dan guru di sekolah sebagai fasilitator untuk mencegah anak terpengaruh nilai2 negatif dari lingkungan masyarakat

Minggu, 20 Agustus 2017

Pujian Yang Tidak Mendidik

Pujian Yang Tidak Mendidik

Orangtua pastinya akan melakukan banyak hal untuk bisa membangun semangat anak dalam belajar.

Salah satunya adalah dengan seringkali memberikan pujian sebagai penghargaan atas pencapaian yang dilakukan oleh anak-anak.

Ternyata, terlalu banyak memberikan dan mengobral pujian pada anak juga berdampak tidak baik.  Mengapa?  Ketika kita seringkali memuji anak atau bahkan nada pujian ini seolah bernada memuja anak-anak dengan mematikan oranglain yang notabene adalah kompetitornya,  akan dapat berdampak tidak baik pada mental si anak.

Keseringan memuji anak dengan nada yang berlebihan akan membangun mental pada anak yang mana mereka cenderung lebih berpikir hanya dirinya yang terbaik dan menganggap orang lain berada di bawahnya.

Ketika harapan anak yang menganggap dirinya adalah yang terbaik dan orang lain tidak akan bisa menandingi kemampuannya maka bisa jadi tekanan yang hebat dan kecewa yang mendalam menerpanya,  alhasil depresi dan bahkan frustasi adalah hal yang akan dihadapinya dengan susah payah.

Ada beberapa pujian yang sebaiknya tidak dikatakan pada anak:
1. "Kamulah yang terbaik di kelas" ➡ Ya,  karakter arogan dan merasa dirinya paling hebat akan secara otomatis tertanam dalam diri anak.  Perhatikan kalimat yang akan kita sampaikan,  upayakan maksud kita tersampaikan dengan baik yang akan membuat mereka termotivasi untuk lebih baik.
2. "Kamu anak hebat" ➡ Boleh-boleh saja disampaikan pada anak,  kita harus piawai membaca situasi. Kita lihat pencapaian apa yang sesuai dengan kata "hebat", jangan menciptakan kesan bahwa anak tidak perlu berjuang keras dan mengupayakan segala hal pun mereka akan menjadi seseorang yang hebat. Untuk menjadi anak yang hebat mereka perlu menaklukkan dan melalui tantangan yang cukup sulit untuknya.
3. "Kamu paling berani,  yang lain penakut" ➡ Kita harus ingat bahwa pujian tidak boleh disertai dengan nada merendahkan oranglain,  apalagi membandingkan bahwa oranglain penakut dengan menyebutkan anak. kita paling berani. Puji anak dengan kalimat yang lebih tepat dan memotivasinya akan lebih membuat kerja keras anak dihargai dengan baik,  misal "Kamu berhasil menaklukan tantangan itu,  sayang.  Bunda sangat bangga padamu".

Akan lebih baik jika kita mempercayakan pada kemampuan anak kita dibandingkan dengan terus menerus memuji anak dengan seolah menaikkan derajat mereka lebih tinggi dari anak-anak lainnya.

Rabu, 09 Agustus 2017

GRIT (Tekad), Bersiap Gagal Dan Bersiap Memulai Dari Awal Dengan Optimis

Keberhasilan kita tidak ditentukan dari kecerdasan sosial,  penampilan yang menarik,  kesehatan fisik,  dan bukan juga IQ.

Grit ⏩ Tekad
Tekad adalah semangat dan ketekunan untuk tujuan-tujuan jangka panjang. Tekad berarti memiliki stamina. Tekad melekat dengan masa depan kita setiap hari,  bukan hanya selama seminggu,  bukan pula satu bulan, tapi untuk bertahun-tahun,  dan bekerja benar-benar keras untuk membuat masa depan itu menjadi kenyataan.

Tekad adalah menjalani hidup seperti sebuah pertandingan lari marathon,  bukan lomba lari jarak dekat.

Ketika menghadapi kegagalan di situlah "grit" akan bekerja,  seberapa mampu kita bangkit untuk lebih tekun dan gigih melawan kegagalan.

Bagaimana membangun tekad pada anak-anak?  Dengan membangun "pola pikir yang berkembang", tanamkan kepada anak-anak bahwa kegagalan itu bukanlah hal yang permanen. 

Jadi pola pikir yang berkembang adalah ide yang bagus untuk membangun tekad.

Kita perlu mengambil ide-ide terbaik kita,  intuisu kita yang terkuat, dan kita perlu untuk menguji mereka.

Bersiap gagal dan bersiap memulai dari awal dengan optimis.

Yup,  kerja keras dan tekad kuat akan membayar semuanya dengan kesuksesan. Bisa disimpulkan "grit" adalah hasil dari pengembangan AQ (adversity quotient).

Sumber: Angela Lee D - Grit,  the power of passion and perseverance.